Wednesday, September 12, 2018

SEBARIS PERTANYAAN SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO

SEBARIS PERTANYAAN SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO

SATU pertanyaan masih tersisa sebelum kami meninggalkan Bandara Internasional Sam Ratulangi, Kota Manado setelah tiga hari berada di Sulawesi Utara.  Pertanyaan singkat itu membuat saya berfikir.Bolehkah sudah kita disebut manusia? Manusia yang sudah memanusiakan manusia? Pertanyaan itu timbul dari pernyataan Dr Sam Ratulangi sendiri yang berbunyi “Si tou timou tumou tou” yang bermaksud “manusia baru disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia”.




Sambil menikmati perjalanan mengelilingi keindahan wilayah paling utara di pulau Sulawesi, kata-kata Dr Sam Ratulangi ini terus terpahat dalam fikiran. Dr Sam Ratulangi adalah Pahlawan Nasional Indonesia, yang lahir di Tondano. Beliau dikenali sebagai ahli politik, wartawan dan guru. Sam Ratulangi memperolehi ijazah sarjana dalam bidang pengajaran dan sains di Universiti Amsterdam,Belanda. Selepas itu beliau melanjutkan pengajan yang mendapat gelar PhD di Universiti Zurich Swiss pada tahun 1919.


Bagi Sam Ratulangi (1890-1949) , Gabenor Sulawesi Utara  yang pertama  ini, falsafah Si tou timou tomuo tou ini sangat penting.  Kini walaupun sudah meninggal 69 tahun lalu, kata-kata Sam Ratulangi ini masih menggema sampai kini.

Itu sebabnya, ketika Pak Mario, pemandu pelancong kami  menjelaskan maksud kata-kata itu, saya teringat perjuangan Sam Ratulangi membebaskan rakyatnya dari kemunduran melalui pendidikan  dan kegigihannya menentang kolonialisme di Indonesia.

Di Kota Manado, yang tahun ini menyambut ulangtahun ke 395, pelbagai kemajuan dan pembangunan berjaya dicapai. Atas kejayaannya memimpin Kota Manado,WaliKota  Ir GS Vicky Lumentut, terpilih sebagai walikota terbaik di seluruh Indonesia.




Banyak perkara menarik di kota yang dinobatkan sebagai kota paling toleransi di Indonesia ini. Ketika Rombongan 15 orang terdiri dari Agensi dan Operator Pelancongan dari Sabah  membuat program kunjungan  Fam Trip di Kota Manado, mereka bukan saja berpeluang melihat pelbagai destinasi pelancongan yang menarik malah keramahan dan layanan istimewa dari masyarakatnya.




Dari Kota Manado, rombongan Fam Trip itu  seterusnya ke Kawangkoan,Tutuyan,Kota Kotamobago, Lolak, dari Boltim hingga Bolmong dan berbalik lagi mengikuti laluan Jalan Trans Sulawesi, Sulawesi Utara bukan saja boleh disimpulkan sebagai Bumi Nyiur Melambai tetapi juga yang selalu melambai lambai kita untuk datang kembali.



 Sebenarnya, Manado dan Sulawesi Utara menjadi pilihan hasil saranan daripada Duta Besar RI ke Malaysia, Rusdi Kirana ketika mengadakan pertemuan dengan KJRI Kota Kinabalu dimana beliau  mendorong agar pelancong-pelancong berkunjung dan meneroka keindahan Wilayah Indonesia Timur yang tidak kurang kecantikan, keindahan dan memiliki pelbagai keistimewaan, kata Konsul Ekonomi KJRI Kota Kinabalu, Ibu Hendro Retno Wulan.




Melalui kunjungan Fam Trip itu, beliau berharap jumlah kedatangan pelancong ke Kota Manado seterusnya ke destinasi pelancongan dan tempat tempat menarik di seluruh Sulawesi Utara akan bertambah berlipat ganda.

Sepanjang kunjungan itu, rombongan dari Sabah itu berpeluang bertemu Bupati Boltim, Bapak Sehan Landjar SH,  Kepala Dinas Pariwisata Boltim, Pak Rizky Lamaluta. Asisten II Bidang Pembangunan dan Kesra Bolmong, Yudha Rantung dan  Kadis Pariwisata dan Budaya (Parbud) Bolmong Dra Ulfa Paputungan. Di Kota Manado, Rombongan juga  sempat bertemu dengan  Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulawesi Utara, Daniel Mawengkang.

Layanan yang diberikan Asita (Association of The IndonesianTours & Travel Agencies) yang diketuai oleh Ibu Merry Karouwan, Ketua Asita Sulut dan ahli jawatankuasanya  amat luar biasa. Malah ketika kami pulang dari destinasi terakhir, Pulau Bunaken, Kota Manado yang dipagari pergunungan itu kelihatan sangat cantik.


Jambatan Soekarno dan Monumen Lilin setinggi 50 meter itu terlihat agak menonjol di ibu kota  Sulawesi Utara yang juga dikenali sebagai “Land Of Smiling People itu”, Masyarakatnya yang terdiri dari berbilang etnik itu-antaranya Minahasa, Bolaang Mongondow dan Sangihe Talaud -hidup harmoni tanpa sebarang masalah.

Torang Samua Basudara, kata orang Manado yang selalu membuat kita aman, yang kehadirannya selalu dialu-alukan. Ungkapan ini juga memperkukuhkan semangat toleransi dan kerukunan hidup masyarakat di Kota Manado

“Mari kita pelihara kebersamaan serta sikap hidup yang saling menghormati dan menjaga toleransi di antara berbagai perbedaan yang ada di tengah kita,” kata Walikota GS Vicky Lumentut, seperti yang dikutip Tribun Manado 14 Julai.

Sebelum berangkat meninggalkan Kota Manado, masih ada waktu yang tersisa di Bandara Sam Ratulangi. Kami sempat pula menghabiskan wang rupiah yang masih ada, untuk membeli cenderamata.


Saya sempat menikmati nasi kuning khas Manado yang selalu dipuji itu. Tapi jangan tanya mana makanan yang sedap, atau mana tempat yang tercantik dan indah untuk dikunjungi  kerana jawapan yang pasti adalah “samua bae bae saja”

“Marijo ka Manado”.Ketika membaca “Manado Punya Cirita”, Kami sudah lama meninggalkan Lapangan Terbang Sam Ratulangi, dan tiga jam kemudian transit di Bandara Internasional Seokarno Hatta sebelum terbang dengan Batik Air ke Kota Kinabalu.

Thursday, September 6, 2018

SINGGAH DI PULAU BUNAKEN, SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO

SINGGAH DI PULAU BUNAKEN, SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO


SEBELUM pulang meninggalkan Kota Manado, kami tidak mahu melepaskan peluang ke Pulau Bunaken,yang terletak kira-kira 45 minit perjalanan dengan bot dari Tasik Ria Resort,di Desa Mokupa,  tempat kami menginap pada malam terakhir di Sulawesi Utara.


Jadi, sejak awal pagi lagi kami sudah berkemas. Check out. Mendaftar keluar dari hotel. Meletakkan bagasi di kaunter untuk diuruskan concierge. Kemudian sarapan di restoran yang terletak di tepian Teluk Manado.

Sarapan dalam dakapan pagi yang cerah itu, biarpun menyelerakan, tidak dapat mengusir keinginan kami untuk segera ke Bunaken, pulau yang menyimpan keajaiban alam yang sungguh mempesona.


Penolong Pengurus Tasik Ria Resort, Hartini Mochtar menyapa kami dengan ramah. Hartini, orang Jawa Tondano. Dia masih keturunan Kyai Modjo, salah seorang ulama dari Pulau Jawa yang diasingkan oleh Belanda  ke Sulawesi Utara bersama 63 pengikutnya pada tahun 1829.

Sebelum melompat ke dalam bot yang disediakan, saya terdengar seseorang menyebut nama saya, Nadin. Saya biasa dipanggil Nadin walaupun sebenarnya nama penuh saya Abd.Naddin. Saya menoleh dan cuba mengamati apa yang diceritakan. Rupanya bukan saya yang dimaksudkan tapi seorang lain bernama Nadine Gorny, seorang perempuan penyelam scuba  yang masih bercuti ketika itu.





Tidak lama selepas itu, kira-kira jam 8.00 kami berangkat ke Bunaken. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan masa bercerita sambil menyaksikan keindahan pemandangan, laut yang terbuka luas, misteri hidupan di dasarnya, dan pulau Manado Tua yang penuh sejarah.

Ada juga yang sempat menikmati kopi, ada yang makan mangga. Saya sendiri, bersama Pak Sarip menikmati kacang yang dibeli dari kawangkoan. Banyak cerita menarik mengenai Bunaken, yang diceritakan sendiri oleh pak Joe Watung, pemilik Bastianos Dive Resort.

Bunaken adalah antara syurga penyelaman terbaik di dunia. Memiliki banyak batu karang yang cantik, dan hidupan  laut yang jarang ditemui di tempat lain. Ia sentiasa menjadi pilihan pelancong khususnya penyelam dari seluruh dunia yang berkunjung ke Manado. Bunaken sentiasa berada dalam jadual perjalanan mereka.




Setiap bulan, resort kami dikunjungi kira-kira 100 orang, katanya. Kebanyakannya dari Eropah. Jumlah ini terus bertambah, katanya sambil mnambah. Pihaknya akan memperkenalkan banyak pakej pelancongan yang tentunya menarik minat pelancong.

Bastianos terletak di Pantai Liang, di bahagian barat pulau Bunaken. Sebaik tiba di pulau seluas 8.08 kilometer persegi di Teluk Manado, kami diberikan taklimat oleh Michael Pilkvist, pengurus Resort. 

Katanya, di sekitar Pulau Bunaken itu terdapat Taman Laut Bunaken yang memiliki biodiversiti laut yang terkaya di dunia. Itu sebabnya penyelam skuba sentiasa menjadikan Taman Laut Bunaken pilihan mereka. Di Taman Laut Bunaken seluas 75,265 hektar meliputi lima pulau iaitu pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage dan beberapa anak pulaunya dan pulau Naen.


Terdapat sebanyak 20 titik penyelaman (dive spot) di Taman Laut Bunaken. Sebanyak 12 titik selam yang lain banyak dikunjungi penyelam terdapat di Pulau Bunaken. Keindahan pemandangan bawah lautnya, menurut orang orang yang pernah menyelaminya, sukar dibayangkan. Terdapat dinding-dinding karang raksasa yang berdiri secara vertikal dan banyak lagi khazanah laut yang luar biasa keajaibannya dan hanya dapat dinikmati penyelam.

Biasanya pelancong yang datang ke Bunaken, selain menyelam (diving) mereka juga berkeliling (sightseeing) menikmati keindahan taman laut dengan bot katamaran. Sorkeling (berenang memakai alat pernafasan)Ada juga yang rekreasi air, berperahu layar (boat sailing), jet ski atau foto bawah laut (photography Underwater) , bermandi matahari (Sunbathing) dan sebagainya.

Kami rombongan Fam Trip yang terdiri dari agen dan operator pelancongan dari Sabah diketuai Konsul Ekonomi, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Ibu Hendro Retno Wulan, harus pulang hari itu juga ke Sabah.  Itulah sebabnya mengapa kami tidak boleh berlama-lama di Bunaken. Kami hanya sempat menghirup udara dan menikmati keindahan pantainya kira-kira sejam sebelum naik semula ke bot untuk Kota Manado seterusnya ke Bandar Udara Dr Sam Ratulangi, menunggu pesawat Batik Air yang akan membawa kami ke Jakarta.

Wednesday, August 29, 2018

PERJALANAN DARI LOLAK HINGGA RESTORAN KAMPOENG MINAHASA

PERJALANAN DARI LOLAK HINGGA RESTORAN KAMPOENG MINAHASA


Jarak antara Lolak Bolaang Mongondow- Manado adalah sejauh 156 kilometer jika menggunakan Jalan Trans Sulawesi. Perjalanan mengambil masa sekitar 3 jam 30 minit. Namun jarak antara Manado-Gorontalu sejauh 404 kilometer mengambil masa kira-kira 6 jam. Jarak Manado ke Palu di Sulawesi Tengah sejauh 948.4 kilometer mengambil masa 21 jam.  Jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Manado di Sulawesi Utara dan Makasar di Sulawesi Selatan sejauh kira-kira  1678 kilometer mengambil masa 37 jam.


Pemandu bas pariwisata yang membawa kami, Pak Deddy Mandey memberitahu jarak antara Manado ke Toraja mengambil masa kira-kira dua hari untuk sampai ke sana. Menurut Pak Deddy, beliau pernah membawa pelancong dengan bas dari Kota Manado ke Tana Toraja.

Kembara di Sulawesi memang memberikan pengalaman yang sangat menarik. Bahkan Pak Mario Salomo Ben Gavriel Sarinsong Pantow atau lebih dikenali Pak Mario, pemandu pelancong kami menceritakan pengalamannya  mengembara dengan motosikal 200cc ke Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.

“Saya belum menjelajah seluruh Sulawesi.Baru sampai tengah saja,” katanya yang mula memiliki motosikal sejak April 2014 dan bergabung dengan Kelab motosikal jadi Rookie bulan 2015 dan diterima jadi ahli pada bulan November tahun yang sama.

Katanya, mengembara dengan motosikal dalam jumlah tiga hingga lima orang adalah lebih baik, boleh berhenti di mana-mana, menginap atau berkhemah di mana-mana tanpa banyak karenah. Beliau berpengalaman juga  bersama rakan-rakan dari luar negara terutamanya dari Eropah Timur yang suka bermotosikal.

Selepas menempuh kira-kira empat jam perjalanan, ditambah dengan kesesakan jalan raya ketika memasuki kota Manado,bahkan sempat pula menyaksikan rombongan yang mengiringi jenazah ke tanah perkuburan kami akhirnya tiba di Restoran Kampoeng Minahasa di Jalan Ring Road Kota Manado.


Kini kami sudah melengkapi perjalanan ke beberapa kota di Sulawesi Utara. Dari Kota Manado kami ke Kawangkoan yang dikenali sebagai Kota Kacang, sebelum tiba di Tutuyan, makan tengahari bersama Bupati Sehan Landjar SH. Dari sana kami singgah di Tanjung Silar sebelum meneruskan perjalanan ke Kota Kotamobagu. Menginap satu malam di Hotel Sutanraja dan keesokan harinya berangkat menujuk Lolak di Bolaang Mongondow atau lebih dikenali sebagai Bolmong. Kami sempat singgah di Kantor Bupati Bolmong sebelum dibawa berkunjung ke Pantai Losari. Dari Pantai Losari Lolak kami berpatah balik ke Kota Manado melalu jalan Trans Sulawesi.


Di sepanjang jalan, kami menyaksikan banyak pemandangan menarik. Sulawesi Utara memang dikurniakan alam yang cantik.

“Perkara pertama yang menarik perhatian saya ialah masyarakatnya. Penduduk Manado sangat peramah dan melayani kita dengan istimewa sehingga kita merasa kehadiran kita dialu-alukan,” kata Pauline Chin, seorang usahawan pelancongan di Sabah.

“Cuma waktunya agak singkat. Kebanyakan masa habis dalam perjalanan, “ kata Pak Sarip. Kalau diikutkan hati, banyak lagi tempat menarik  di Sulawesi Utara yang sentiasa menggamit untuk dikunjungi.

Selepas berkeliling Sulawesi Utara itu, menyaksikan keindahan alamnya dan keramahan masyarakatnya dan kesedapan makanannya dan keharmonian rakyatnya dan banyak dan lagi, kami diraikan dalam satu majlis di Restoran Kampoeng Minahasa.

Suku Minahasa adalah salah satu suku bangsa di Sulawesi Utara. Suku bangsa terbesar di wilayah itu. Kami tidak sempat berkenalan walaupun orang-orang Minahasa terkenal dengan kecantikan dan keunikan budayanya.







Keindahan alam Sulawesi Utara (Sulut) mendapat pujian daripada ketua rombongan, Konsul Ekonomi KJRI Kota Kinabalu, Ibu Hendro Retno Wulan.

Menurutnya, Sulawesi Utara adalah salah satu daerah di Indonesia dengan keindahan tiada duanya. “Setelah kami beberapa hari di daerah ini melihat dan merasakan bagaimana kerukunan daerah ini terus terjalin dengan baik. Apalagi sektor pariwisata (pelancongan) semua yang ada di daerah ini sangat luar biasa,” katanya.

“Pokoknya waktu terasa kurang dan kami akan kembali untuk berlibur ke daerah ini serta menikmati spot spot destinasi pariwisata lainnya yang ada di daerah ini,” katanya seperti yang dikutip elnusanews.com, media tempatan di Kota Manado.


Ketua ASITA Sulut (Association of the Indonsia Tours and Travel Agencies) Merry Karouwan sendiri bersama beberapa ahli jawatankuasanya mengiringi rombongan 15 anggota delegasi agensi dan operator pelancongan dalam kunjungan ke Sulawesi Utara.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulawesi Utara, Daniel Mawengkang menyambut baik dan mengalu-alukan kedatangan rombongan Fam Trip dari Sabah itu.

Sulawesi Utara memiliki pelbagai keistimewaan, banyak destinasi wisata yang boleh dikunjungi kerana Sulut kaya dengan keindahan alam, kata Mawengkang yang pernah jadi Atase Perdagangan KBRI di Madrid Sepanyol.


Sebenarnya, Manado dan Sulawesi Utara menjadi pilihan selepas pertemuan KJRI Sabah dengan Duta Besar RI ke Malaysia, Rusdi Kirana yang mendorong agar pelancong-pelancong berkunjung dan meneroka keindahan Wilayah Indonesia Timur.

Waktu memang cemburu. Esoknya kami harus berangkat pulang dan meninggalkan Manado, yang dinobatkan sebagai Kota Paling Bertoleransi yang menyambut ulang tahun ke 395.

Malam terakhir di Kota Manado, usahawan pelancongan dari Sabah dan Manado berkongsi maklumat dan iktikad untuk bekerjasama dalam mengembangkan sektor pelancongan antara kedua pihak.

Selepas menikmati pelbagai jenis makanan enak yang disajikan, majlis dteruskan dengan penyampaian cenderamata sebelum diserikan dengan nyanyian dan tarian poco-poco.

Wednesday, August 22, 2018

BOLMONG KAYA KEINDAHAN ALAM SEMULAJADI

BOLMONG KAYA KEINDAHAN ALAM SEMULAJADI

Di sepanjang jalan di Bolmong , kelihatan ladang kelapa sejauh mata memandang. Tidak hairanlah jika Sulawesi Utara dikenali juga dengan nama Negeri Bumi Nyiur Melambai. Hasil utamanya ialah kelapa kering atau kopra. Bahkan suratkhabar Harian Komentar  melaporkan keluhan petani kelapa kerana kejatuhan harga kopra sejak awal tahun ini . 

Kini harganya Rp4500 sekilo menyebabkan banyak petani enggan mengolah kelapa. Akibatnya ekonomi Sulawesi Utara turut terancam, Ada pula yang memanfaatkan ladangnya dengan menanam jagung.Sistem tumpang sari ini memberi keuntungan lebih kepada petani selain pendapatan tambahan juga ia membantu menyuburkan ladang kelapa.


Akhirnya sampailah kami ke Lolak, ibu kota Bolmong atau Bolaang Mongondow. Majoriti penduduknya adalah orang Mongondow, dan bahasa ibundanya adalah bahasa Mongondow.Namun bahasa komunikasi yang digunakan sehari-hari ialah bahasa Melayu Manado.


Bolaang Mongondow atau Bolmong  dibuka dengan rasminya pada 23 Mac 1954. Tahun 2007, Bolmong dimekarkan menjadi Kota Kotamobago dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Tahun 2008, ia dikembangkan lagi menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.


Kini Kabupaten Bolmong yang memiliki penduduk majoriti Islam kira-kira 61 peratus, Kristian 31 peratus, Katolik 1 Peratus dan Hindu 5 peratus adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Utara yang sedang meningkat maju.



Rombongan Fam Trip yang terdiri dari agensi pelancongan diketuai Konsul Ekonomi Ibu Hendro Retno Wulan disambut oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow (Bolmong) sebaik tiba di Lolak.  Asisten II Bidang Pembangunan dan Kesra Bolmong, Yudha Rantung memberikan taklimat  didampingi Kadis Pariwisata dan Budaya (Parbud)  Dra Ulfa Paputungan. Turut hadir ialah Ketua Asita Sulawesi Utara, Ibu Merry Karouwan dan ahli jawatankuasanya.

Bupati Bolmong, Yasti Soepredjo Mokoagow mengirimkan permohonan maaf kerana tidak dapat hadir,, Ketika itu beliau  berada di Jakarta  kerana ada agenda dan undangan dari pemerintah pusat.

Dalam taklimatnya, Yudha memberitahu mengenai potensi wisata bahari di Kabupaten Bolmong. Menurutnya, Bolmong memiliki sumber daya alam yang menjadi satu kelebihan yang mampu menarik lebih banyak pelabur.

Satu satu pelabur yang melabur di Molbong ialah PT Conch North Sulawesi Cement (SNSC) yang bergiat dalam pembuatan simen dengan nilai pelaburan Rp10 Triliun. Pelaburan lain ialah  kelapa sawit  ialah Rp15 triliun dan pelaburan perlombongan emas sekitar Rp40 triliun.
Ketika ini  kita fokus untuk sektor pelancongan, katanya. Antara yang mahu dikembangkan ialah   wisata Pulau Tiga di Kecamatan Sangtombolang, wisata alam Taman Nasional Nani Wartabone di Dumoga, wisata penangkaran atau penetasan  telur burung maleo, kolam  air panas di Desa Bakan serta air terjun di Desa Lolayan,” kata Yudha.
Beliau menambah, , air terjun di Desa Lolayan ini pernah mendapat anugerah di peringkat antarabangsa. Kini pihaknya memberikan perhatian ke arah usaha meningkatkan potensi pelancongan.
Rantung  sangat teruja dengan kunjungan kali ini. Beliau menyatakan pesisir Pantai Bolmong sejauh 160 kilometer yang sangat berpotensi untuk dimajukan sebagai destinasi pelancongan.
Menurutnya, lapangan terbang kini sedang dibina dan dijangka siap dalam tempoh tiga tahun. Ini akan memudahkan lagi pelancong dalam dan luar negeri untuk berkunjung ke Bolmong.
Sementara itu, Konsul Ekonomi KJRI Kota Kinabalu, Hendro Retno Wulan menyampaikan rasa terima kasih kerana sambutan hangat yang diberikan Pemkab Bolmong. Beliau menyatakan kunjungan itu adalah meninjau tempat pelancongan di Bolmong untuk dijadikan pakej pelancongan di Malaysia.
“Sangat baik wisata alamnya, dan ini akan dijadikan paket tour (pakej pelancongan),” kata Ibu Wulan.
Selepas itu, rombongan dibawa ke Pantai Losari. Ini bukan Pantai Losari di Makassar tapi  Pantai Losari di Desa Mobatang, Kecamatan Lolak ini tak kalah cantiknya. Pantai ini sering menjadi tumpuan warga Bolmong dan kawasan sekitarnya. Ada pondok-pondok yang dibina, agak unik dan memberikan keselesaan kepada pengunjung. Selain itu beberapa kemudahan juga disediakan seperti tempat pertemuan, tempat permainan anak  dan sebagainya.






Pengalaman yang  tidak dapat dilupakan di pantai Losari Lolak ialah menikmati air kelapa, yang buahnya baru dipetik dari pokoknya.Langsung dikupas dan diminum airnya yang manis di tengah rasa dahaga.
Sesungguhnya perjalanan di Bolaang Mongondow memberikan banyak pengalaman tersendiri. Tidak terbayangkan betapa di Sulawesi Utara, terdapat banyak destinasi pelancongan yang menarik. Kecantikan alam semulajadi yang belum banyak terusik tapi terus mengusik kenangan kami sepanjang perjalanan pulang  ke Kota Manado.



Wednesday, August 15, 2018

MENIKMATI IKAN WOKU DI KOTAMOBAGU

MENIKMATI IKAN WOKU DI KOTAMOBAGU


Saya lupa bertanya Pak Mario, apa nama daerah yang kami singgahi itu. Ada yang tak tahan lagi. Kami terpaksa berhenti bagi memberi peluang kepada mereka memenuhi panggilan alami. Pemilik warung memberitahu kamar kecil, sebutan bagi tandas di sana, berada di belakang.Tapi kerana tandas hanya satu, mereka terpaksalah berbaris. Penumpang lain mengambil peluang untuk merokok.

Saya juga turun dari bas. Ada jagung rebus yang dijual, Setelah mencicipinya, saya rasa jagung di sana tak ada bezanya dengan yang di Sabah. Tapi bila lagi peristiwa makan jagung di Boltim itu bisa terulang?

Hari sudah gelap. Cuaca agak dingin, mungkin satu jam lagi kami dijadual tiba di Kotamobagu.Di Kotamobagu, salah satu kota di Sulawesi Utara, kami check in di Hotel Sutan Raja, di Jalan Ahmad Yani Kobo Besar. Sebaik meletak barang, dan mandi, kami turun semula untuk makan malam.


Ibu Merry Karouwan membawa kami ke D’Talaga Resto di Jalan Bubak-Bungko Kotamobagu, menikmati suasana malam di restoran itu.Kami sengaja mencari tempat yang jauh dari tempat orang yang menyanyi.Kami memilih tepi danau.

Tidak lama kemudian makanan dihidangkan. Selain sayur, semua lauk dari jenis ikan dengan pelbagai cara masakan. Ikan tilapia yang besar, Entah mungkin kerana lapar atau kerana makanan yang enak, kelihatan semua orang makan dengan berselera.
Kami duduk berjejer menghadap meja panjang itu. Malam itu, kami, rombongan FAM Trip  dari Sabah, Malaysia dijamu oleh ASITA (Association of Indonesian Tours and Travel Agencies). Bagi anggota rombongan dari Sabah, inilah peluang mereka untuk menikmati makanan dan masakan Sulawesi Utara. Banyak jenis juadah yang dihidangkan. Di sebelah saya pak Herry Karouwan, sementara di depan saya Pak Sarip, Pak Andra dari Pelni dan Pak Daru.Saya rasa kagum terhadap diri sendiri kerana mampu menghabiskan tiga ekor ikan besar.






Paling enak sekali, bagi saya ialah sajian ikan pedas- ikan woku, makanan tradisi di Sulawesi Utara.Ikannya dicampur dengan aneka bumbu yang rasanya pedas.

Ada juga yang dimasak berkuah. Ada ikan rica-rica dan masakan yang saya tidak ingat lagi namanya. Masakan Manado dan daerah-daerah sekitarnya biasanya pedas. James , bilang kalau berlaku krisis beras di Jakarta itu tidak apa apa di Sulawesi, asal jangan berlaku krisis cabai. Jika kurang cabai, bekalan cabai terpaksa diterbangkan dari Jakarta. Jangan tak ada cabai, katanya sambil menghabiskan sisa ikan woku di depannya.

Mari torang makan ikan woku, katanya. Kalian tahu mana bahagian ikan yang paling sedap? Semua memberikan jawaban, tapi kata  James, bahagian yang paling sedap ialah di pelupuk mata ikan.


Kota Kotamobagu mempunyai penduduk kira-kira 114,980 orang adalah salah sebuah kota di Mongondow, sebuah wilayah di Sulawesi Utara.Mongondow sendiri terbahagi kepada empat kabupaten dan satu kota iaitu Bolmong,, Bolmut, Boltim, Bolsel dan Kota Kotamobagu sendiri.. Bolmong itu singkatan kepada Bolaang Mongondow, Bolmut singkatan kepada Bolaang Mongondow utara, Boltim (Bolaang Mongondow Timur), Bolsel )Bolaang Mongondow Selatan.

Selain terkenal sebagai Bumi Nyiur Melambai kerana banyaknya ladang kelapa di Sulawesi Utara, wilayah itu juga terkenal sebagai pengeluar buah pala. Sebahagian besar buah pala diesport ke Eropah. Ia salah satu komoditi yang menjadi kebanggaan Sulawesi Utara yang banyak dieksport ke Itali, Belanda, Jerman dan negeri lain di Eropah.Permintaan terhadap pala dan rempah rempah dari Indonesia  di Eropah sangat tinggi.

Begitu juga buah matoa, yang diperkenalkan kepada kami oleh James. Buah ini rasanya unik. Rasanya seperti longan,laici  tapi mirip rambutan juga. Isinya manis dan enak dimakan. Kaya vitamin C dan Vitamin E.Matoa memiliki khasiat kesihatan  yang banyak, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah kanser,jantung, menghilangkan stres dan mampu meningkatkan kesuburan. Hampir setiap rumah memiliki tanaman pokok matoa., nama latinnya Pometia Pinnata,  Kotamobago yang terkenal juga sebagai kota matoa.,buah bermusim antara  Julai dan Oktober.

Sebelum meninggalkan Kotamobagu, saya tertanya-tanya juga dan ingin merasa tinutuan atau bubur manado. Penasaran orang bilang. Rupanya bubur itu hanya mengandungi beras, halia, serai dan labu kuning. Tapi sedap juga.





Tidak lama kemudian kami berangkat meninggalkan Kota Kotamobagu. Banyak pemandangan yang mempesona di kiri kanan jalan. Selain itu, banyak juga buah-buahan tempatan yang dijual di sepanjang jalan.Di Desa Lobong, Kecamatan Passi Barat, kami singgah di sebuah warung penjual nenas. Selepas itu, kami naik bas semula untuk meneruskan perjalanan ke Bolmong atau Bolaang Mongondow.