Friday, March 6, 2009

Ibu Dayang berpantun lagi

Saya menerima panggilan telefon Ibu Dayang Salmah Salam sejak beberapa minggu yang lalu menanyakan sama ada pantun yang dikirimkannya sudah sampai ke meja sastera dan budaya Utusan Borneo atau belum. Saya kata belum lagi, mungkin tersalah alamat ataupun terlambat.
Akhirnya karya yang dikirimkan ibu dayang itu, sampai juga ke tangan kami.
Saya membuka sampulnya dan isinya sajak dan pantun ria.

Pantun Ria Ibu Dayang (Hajah Dayang Salmah Salam merupakan penulis veteran dan dianggap wartawan wanita Melayu pertama di Sabah) mengusik hati. Pantunnya dalam bahasa Melayu Brunei.

Asam Kelumbi disangka manis
bila termakan berdenyitlah mata
tengah malam bangun menulis,
mengarang pantun untuk biskita

Anak ayam turun sepuluh
mati seekor tinggal sembilan
setiap hari duduk mengeluh
kerana biskita sudah berjauhan

Mari ke rumah Dayang Zaiton
Rumahnya jauh di Kota Marudu
anitah ku karang pantun ani
untuk mengubat hatiku rindu

Pagi-pagi memasak laksa,
mun kan nyaman tambah ajinomoto
apa khabar badan Bahasa?
Mun...ada pertemuan, jangan lupa ke diaaku

Kalau biskita jalan ke sawah
ikut jembatan berhati-hati
walaupun biskiya jauh di mata
namaun rasaku dekat di hati...

Pulut panggang pulutku ini
hendak dimakan bulan puasa
sampai di sini dulu pantunku ani
berjumpa kitani di lain masa...Assalammualaikum

P/s kakak minta maaf jika ada tersalah eja...sebenarnya salah ketuk, maklumlah mataku masih kabur.
Disini saya terangkan tentang bahasa Brunei yang kakak gunakan seperti:
Kitani- keluarga
biskita-semua orang, semua teman,
mun- kalau
lagau- panggil

1 comment:

Mohd Isa bin Abd Razak said...

Salam.

Kak Dayang Salmah Salam pernah berbengkel bersama-sama saya pada tahun 70-an. Antara pembimbing kami ialah A Samad Ismail. Teringat kembali suka duka masa berbengkel.

Wassalam.