Thursday, August 6, 2009

Catatan Tentang WS Rendra satu ketika di Kota Kinabalu

Hanya sekali itulah saya melihat WS Rendra membaca puisi di Kota Kinabalu. Kalau tidak silap tahun 90, ketika berlangsungnya Kongres Kebudayaan Kebangsaan di Sabah. Waktu itu, WS Rendra atau H Wahyu Sulaiman Rendra tampil berbaju hitam. Saya tidak ingat lagi puisi apa dibacakannya tetapi yang lontaran vokal suaranya begitu mempesona.

Penampilan WS Rendra itu, kata seorang rakan yang pernah menontonnya beraksi di TIM masih kurang jika dibandingkan dengan penampilan sebelum itu. Waktu itu Usianya sudah 55."Rendra tidak tampil prima pada malam itu, mungkin kerana kurang sihat," kata rakan saya itu.Namun bagi kami, kemunculan Rendra membaca puisi, sungguh satu pengalaman yang tidak dapat dilupakan kerana sebelumnya kami hanya mendengarnya namanya.

Mungkin itulah juga kali terakhir WS Rendra membacakan puisinya di utara kepulauan Borneo ini.Sebab beliau tidak datang lagi selepas itu. Rendra tidak akan datang lagi kerana beliau telah pulang ke tanah yang lapang, di Cipayung Depok malam kelmarin.

Pemergiannya ke alam yang kekal itu ditangisi ribuan orang yang mengenal dan pernah membaca puisinya. Tetapi Rendra sendiri, walaupun sudah terlantar sakit sejak beberapa lama kerana sakit jantung, kelihatan begitu pasrah.

" Aku datang kepada-Mu, ya Allah dengan tangan terentang dan muka ke tanah. Aku datang kepada-Mu, ya Allah bila habis segala daya dan jiwa terpesona. – "Datanglah, ya Allah, begitu bunyi sajaknya.

Si Burung Merak ini meninggalkan buat selama-lamanya ketika usianya 74 tahun. Saya terkenang kisah-kisah atmo karpo, paman doblang, joki tobing kisah pelacur kota jakarta dan sebagainya dalam puisi-puisinya.

Beliau seorang penyair yang gigih berjuang membela orang-orang kecil, orang-orang teraniaya bahkan janda yang tergusur rumahnya, pelacur yang terhina bahkan orang-orang yang terpenjara, juga orang-orang kecil di rangkasbitung.

Saya mulai terpengaruh dengan Rendra selepas membaca sajak-sajaknya dalam Potret Pembangunan Dalam Puisi. Saya membayangkan seorang lelaki yang duduk di bawah pohon meranggas, dan banyak lagi puisi berisi kritikan sosial dan sebagainya.

"Kita bertanya :/kenapa maksud baik tidak selalu berguna/kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga/orang berkata : "kami ada maksud baik"'dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa .-Sajak pertemuan mahasiswa . Sajak Rendra ini menanyakan mengapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Sebuah sajaknya yang lain berjudul Rajawali, dibacakan untuk Datuk Seri Anwar Ibrahim ketika Anwar terpenjara di Sungai Buloh. Sebuah sangkar besi/tidak bisa merubah/seekor rajawali/menjadi seekor burung nuri," katanya dalam sajak Rajawali.

Tetapi beliau mengingatkan bahawa "Kesedaran adalah matahari/kesabaran adalah bumi/keberanian menjadi cakerawala/dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Aku ‘kan sampai ke tempat yang dulu: udara yang jernih dan sabar perasaan yang pasti dan merdeka serta pengertian yang sederhana – "Rumah Pak Karto",

Kerana kami makan akar/dan terigu menumpuk di gudangmu/kerana kami hidup berhimpitan/dan ruangmu berlebihan/maka kita bukan sekutu.

WS Rendra telah pergi dan tak akan kembali.Saya ikut berduka. Selamat Jalan Mas Willy, penyair besar Nusantara

No comments: