Sunday, November 15, 2009

Kasihan Bangsa, kata Kahlil Gibran

Siapakah penyair yang tidak mengenal Kahlil Gibran? Mungkin tidak ramai yang tidak mengenalnya.Penyair ini telah menghasilkan sajak-sajak yang indah, yang penuh pesan yang membuka jalan fikiran.
Saya teringat sajaknya ketika seorang rakan di facebook memposting sajak penyiar Lubnan ini. Barangkali bagus juga kalau kita dapat baca dan fikirkan bersama-sama maksud Kahlil Gibran yang meratapi nasib bangsanya.Barangkali akan ada manfaatnya jika kita dapat merenungkannya bersama-sama untuk sekadar intropeksi diri.

Kasihan bangsa
yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa
yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa
yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa
yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa
yang negarawannya serigala,falsafahnya gentong nasi,dan senimannya tukang tambal
dan tukang tiru.

Kasihan bangsa
yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan
namun melepasnya dengan cacian,hanya untuk menyambut penguasa baru lain
dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa
yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa
yang berpecah-belah,dan masing-masing menganggap dirinya sebagai satu bangsa.

Khalil Gibran

1 comment:

Bigpanda said...

bangsa yang bermaruah ialah bangsa yang tidak pernah lupa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Memang menarik sajak 'Kasihan Bangsa'. terdetik dalam diri bagaimana yang dikatakan bangsa yang maju? fendy-RTM