Monday, November 30, 2009

Sedikit catatan mengenai Ampatuan dan Mangudadatu

Pertelingkahan keluarga Ampatuan dan Mangudadatu yang berpunca daripada perseteruan politik sampai pada kemuncaknya pada 23 November lalu. Kita semua tahu, 57 orang mati termasuk isteri Esmael Mangudadatu, Datu Bandar Buluan, dua adik perempuannya, dua peguam, 27 wartawan dan 15 orang pengguna jalanraya yang melalui Barangay Salman dalam peristiwa mengerikan itu.
Permusuhan antara keluarga, yang biasa dipanggil rido, bukanlah sesuatu yang luar biasa di Mindanao. Ia sering terjadi di wilayah itu tetapi kali ini, tragedi itu mendapat perhatian seluruh dunia apabila 27 orang wartawan turut dibunuh dalam kejadian itu. Pembunuhan wartawan, dalam jumlah yang begitu besar, belum pernah terjadi di belahan manapun di dunia ini, sama ada di Afghanistan, Somalia, Iraq, dan wilayah kacaubilau yang lain malah sepanjang perang di Mindanao sendiri tidak pernah terjadi peristiwa seperti itu. Wartawan yang biasanya belindung di sebalik press card nya itu tetapi selamat ketika membuat liputan sepanjang perang antara MILF dan Kerajaan Filipina.
Namun kali ini, wartawan turut terkorban dalam kancah perseteruan politik tempatan antara dua keluarga yang bersaing merebut jawatan Gabenor Maguindanao.
Keluarga Ampatuan merupakan keluarga yang amat berpengaruh di Maguindanao. Sebanyak 18 daripada 22 Datuk bandar diwilayah itu merupakan anak, anak saudara atau keluarga Datu Andal Ampatuan. Andal Ampatuan, 65, yang mempunyai empat isteri dan 31 anak, hampir tidak pernah dicabar dalam pemilihan Gabenor kerana begitu berpengaruh. Seorang anaknya, Zaldy Ampatuan merupakan salah seorang Gabenor di wilayah ARMM manakala Andal Ampatuian Jr, yang dituduh sebagai dalang disebalik peristiwa itu merupakan Datu Bandar di Bandar Datu Unsay. Seorang abang mereka, mati ditembak oleh dalam satu serangan pejuang, beberapa tahun lalu manakala seorang lagi mati ketika sedang menari di disko.
Sebagai keluarga yang berkuasa, Andal Ampatuan Sr mempunyai pengawal peribadi bersenjata. Keluarga ini amat berpengaruh dan menjadi sekutu Arroyo.
Mangudadatu sebaliknya merupakan Datu Bandar di Buluan, juga di wilayah Magundanao. Keluarga Mangudadatu juga merupakan keluarga besar. Bagaimanapun, hasratnya bertanding sebagai gabenor pada Mei 2010 itu mendapat tentangan hebat daripada Ampatuan, yang mengancam jika Mangudatu menghantar borang pencalonannya beliau akan dibunuh. Itulah sebabnya beliau menghantar isterinya, adik perempuan dan ahli keluarganya, kebanyakannya wanita untuk menghantar kertas pencalonan itu dengan harapan mereka tidak akan diserang.
Ampatuan yang menguasai hampir semua wilayah di maguindanao, hampir semua jentera kerajaan tidak berpuas hati dengan tindakan Esmael mangudaddatu itu, apatahlagi mereka mahukan biarlah Mangudadatu berkuasa di buluan, tanpa membuat kacau di Maguindanao dengan bertanding dan merosakkan status qou yang yang ada. Sebelum ini ada berita yang menyatakan bahawa ketika Esmael menyatakan hasratanya untuk bertanding itu, beliau membawa bersamanya ramai pengawal bersenjata yang menimbulkan kemarahan Andal Ampatuan. Itulah sebabnya, Ampatuan mengeluarkan amaran bahawa jika sekiranya Esmael terus mencalonkan diri, beliau akan dibunuh.
Kedua-dua keluarga ini merupakan rakan Arroyo di selatan filipina. Sengketa mereka bukanlah baru, dan bahkan menjadi sesuatu yang biasa.
Peristiwa ini menjadi tumpuan seluruh dunia kerana ia melibatkan kematian wartawan, yang membuat liputan proses pencalonan itu.
27 orang semuanya, dan ini bukannya angka yang kecil. Sengketa antara keluarga, berpunca daripada politik itu sepatutnya diselesaikan antara mereka dan tidak melibatkan pihak lain.
Kita mengutuk kekerasan dan keganasan, kita mengutuk tindakan yang tidak berperikemanusiaan ini. Soal-soal politik seharusnya diselesaikan secara politik dan bukan dengan pembunuhan.

Wednesday, November 25, 2009

Ketika Politik Tidak Berperasaan-Hasan Aspahani

Saya tertarik dengan artikel yang ditulis oleh rakan saya, hasan asphani, pemimpin redaksi di Batam Pos, sebuah akhbar harian terkemuka di Batam. Berikut saya sajikan tulisan hasan yang ditulisnya dalam http://sejuta-puisi.blogspot.com

KETIKA POLITIK TIDAK BERPERASAAN
Oleh Hasan Aspahani

KETIKA politik bengkok, kata John F Kennedy, puisi yang meluruskan. Ketika politik kotor, puisi yang membersihkan. Tapi, saya sekarang nyaris tidak percaya. Tapi, kata saya, ketika politik tidak berperasaan, puisi sesungguhnya tak bisa berbuat apa-apa.

Politik kita sekarang sedang bengkok-bengkoknya. Kita yang tidak peduli pun terpaksa harus mengikuti juga perkembangannya. Hanya ada satu kata: memuakkan!

Saya mencoba percaya pada Kennedy. Untung saja dia yang memuja puisi itu seorang politikus, bukan penyair, maka kalimat itu menjadi terkenal, kerap dikutip, dan tak menjadi bualan basi.

Saya mencoba percaya, membaca-baca tentang puisi, dan ah saya kira Kennedy salah. Tak ada yang bisa saya lakukan dengan puisi untuk meluruskan dan membersihkan politik di mata saya. Kecuali satu hal: dalam puisi, hati dan jiwa menjadi pusat perhatian. Dalam politik? Saya tak bisa membawa dua hal itu ke sana tanpa tak merasa marah dan tersepelekan.

Politik, kalau mau ditata, mungkin harus dimulai dengan mengatur hati dan jiwa itu. Kita bisa belajar bagaimana itu dilakukan dalam puisi.

Dalam tulisannya "Jiwa Bernyanyi" di majalah Pujangga Baru, kemudian terbit di buku "Kebangkitan Puisi Baru Indonesia" (PT Dian Rakyat, Jakarta, 1969, cetakan ke-1)) Sutan Takdir Alisjahbana menulis begini: Puisi Indonesia yang baru, baru mulai. Baru sepuluh lima belas tahun sejarah yang terbentang di belakangnya. Setinggi-tingginya kita dapat berkata, bahwa sekarang ini baru selesai masa persediaan: masa merambah, masa merubuhkan tunggul yang lama untuk memberi tempat tumbuh bagi kembang yang baru.

Majalah Pujangga Baru mulai terbit pada tahun 1934 sampai mati di zaman pendudukan Jepang.

Dalam tulisan yang sama kita bisa temukan pernyataan: Kebangunan kususasteraan dan teristimewa puisi Indonesia dalam abad kedua puluh satu ini pun bukanlah lain dari pada bangunnya jiwa yang terikat, jiwa yang tiada dapat bergerak lagi di dalam buhulan ikatan dan simpulannya. Terasalah kepadanya sempit kurungannya dan pedih belitan rantainya, dan demikianlah telah selayaknya jiwa yang sadar kembali itu menghancurkan kungkungan dan ikatan yang menahan langkah dan geraknya.

Apa yang hendak dihancurkan itu? Takdir menulis: Sekalian sajak susunan kata yang terlazim, sekalian irama yang terbiasa, sekalian kiasan dan bandingan yang telah menjadi buah mulut dan pepatah dilemparkan, sebab hanyalah dalam udara bersih-jernih dan bebas-lepas akan dapat pula jiwa yang telah lesu-lumpuh itu menjelmakan dirinya segiat-gembiranya, semesra-mesranya.

Sebelum Takdir sampai pada pembahasan sajak-sajak raja-raja penyair zaman itu - antara lain J.E Tatengkeng, Rustam Effendi, Sanusi Pane - ia mengantar dengan sebuah paragraf penting: Semangat perlawanan, semangat hendak menghancur-remukkan dan melemparkan segala yang menghalangi dan merintangi itu bermacam-macam caranya terjelma dalam puisi Indonesia yang baru.

Apa hasil dari perlawanan itu? Sajak yang mengembalikan puisi kepada asalnya, yakni jiwa yang bernyanyi. "Di sinilah sesungguhnya terletak sari pembaharuan puisi Indonesia: hidup saktinya perasaan," kata Takdir.

Kenapa sajak demikian itu disebut Takdir sebagai sebuah upaya penyair Pujangga Baru mengembalikan puisi ke asalnya? Sebab, ia jelaskan, dalam syair yang lama perasaan telah lemas tertimbun di bawah debu perkataan. "Dan pujangga baru mengeluarkannya pula ke sinar matahari, muda dan hijau berseri-seri," kata Takdir.

Maka, Takdir saat itu menyadari, mengapa dalam puisi Indonesia yang baru itu bersemaharajalela lirik. Ia rumuskan sendiri apa yang ia maksudkan dengan sajak lirik yaitu: curahan kalbu yang langsung meresap ke kalbu.

Apa yang bisa dipelajari oleh penyair saat ini dari apa yang ditulis Takdir? Saya mencatat lima hal:

1. Lansekap puisi Indonesia saat ini terbentang jauh lebih luas. Kerja kolektif penyair saat ini seharusnya tidak lagi 'merambah, merubuhkan tunggul yang lama untuk memberi tempat tumbuh bagi kembang yang baru'. Kita tidak bisa lepas dari bentangan itu, tapi ini bukan penjara, ini adalah pijakan sekaligus tantangan untuk melompat dengan karya yang mampu menggapai cakrawala yang lebih luas. Upaya untuk keluar dari sana, atau meniadakannya sama sia-sianya dengan orang yang berkarya tapi tidak sadar bahwa ia berada dalam sebuah lansekap yang sudah lama terbangun. Ia seperti kadal terkurung tempurung!

2. Penyair Indonesia saat ini telah berada dalam sebuah iklim berkarya yang amat bebas, sebebas-bebasnya. Tetapi, amat disayagkan, ada penyair yang tidak bisa memanfaatkan kebebasan itu. Mereka kikuk, gamang, dan tak tahu harus menuju kemana. Mereka, sialnya, terkekang oleh kebebasan itu sendiri. Akibatnya, tak banyak pencapaian-pencapaian baru yang layak dicatat.

3. Penyair Indonesia saat ini tidak harus menghancurkan apa-apa. Apa yang ditinggalkan atau dihasilkan oleh pendahulu adalah puncak-puncak yang harus dikaji, dipelajari, dikagumi, kemudian harus ada niat untuk mengalahkan dengan membina puncak baru yang lebih tinggi, lebih menjulang, dan lebih kokoh pondasinya.

4. Penyair Indonesia saat ini tidak perlu berimajinasi membersihkan 'udara' dan dia pun tak perlu berkhayal hanya dalam udara yang 'bersih-jernih dan bebas-lepas' itulah baru dia bisa menciptakan karya-karya bernapas baru. Kita berada dalam udara kehidupan yang nyaris jenuh. Justru karya kitalah yang seharusnya bisa membersihkan kejenuhan itu, bukan sebaliknya membuat udara makin keruh. Karya kita harus menawarkan kesegaran.

5. Terima kasih pada Pujangga Baru yang sudah membangkitkan sajak lirik. Dalam batasan yang ketat, sajak lirik dihadap-hadapkan dengan sajak epik. Apakah kalau kita kini risau dengan sajak lirik, maka kita harus mengobati kerisauan itu dengan sajak epik? Tidak! Yang lirik dan yang epik akhirnya cuma gaya. Keduanya adalah sajak. Keduanya berhak untuk digarap maksimal. Yang harus ditolak adalah pemujaan pada satu bentuk, pada satu gaya, pada satu kecenderungan dan dengan itu kemudian meniadakan atau menutup jalan ke bentuk lain.

Apalagi kalau kecenderungan itu semakin memperparah kejenuhan 'udara' kreativitas. Dan itu yang terjadi di ranah politik. Udaranya terus-menerus dijenuhkan. Tak ada kreativitas. Para pemimpin, hanya pandai mendapatkan legitimasi dari rakyat, tapi tak pandai memberi inspirasi. Tak ada tindakan yang kelak dikenang dengan rasa bangga.

Catatan singkat di Kota Kinabalu

1. Saya merasa terkejut dengan telefon daripada Herry Uswanda dari Pontianak. Beberapa hari yang lalu saya memberitahu bahawa bapa mertua saya masih punya saudara di Pontianak. Saya memintanya untuk membaca blog saya http://keluargakitabersama.blogspot.com untuk kisah selanjutnya. Dua malam berturut-turut, kota Pontianak hujan. "Esok nanti saya cari pak," katanya.
Dan apabila saya mendapat panggilan telefon malam ini, dan memberitahu saya bahawa beliau berada di rumah ibu Hassanah, adik beradik Pakcik Hassan Osman, saya berasa sangat gembira dan terharu sehingga untuk beberapa ketika lidah kelu tak terkata apa-apa. Keluarga mertua saya, Nurdin Hassan yang terputus hubungan sejak tahun 83 itu akhirnya terjumpa. Sebelumnya pada tahun 71, arwah Usman Ahmad berkirim surat menyatakan beliau ingin bertemu, walau hanya dimuka pintupun jadilah. Surat menyurat itu kemudian di sambung anaknya, hassan usman, surat paling akhir tahun 83.
Mereka masih tinggal di Jalan Komyos Sudarso cuma alamat rumahnya sekarang no32.. Alhamdulillah kerana Herry sudi membantu.
Moyang mertua saya itu bernama Muhamad Arif. Muhamad Arif kahwin dengan Nurain di Pontianak lalu mendapat seorang anak bernama Idris. Kemudian apabila Muhamad Arif Syafie berkhidmat di Istana Kesultanan Bulungan sebagai kadi, beliau berkahwin dengan Ainun Jariyah. Ainun jariah inilah nenek kepada mertua saya. Ketika berusia 10 tahun Idris dibawa orang untuk mencari bapanya di Tanjung Selor. Setelah beberapa lama di tanjung selor dan sewaktu akan berangkat balik ke Pontianak, entah bagaimana bapanya , muhamad Arif ternampak cincin tanda pengenalan bahawa Idris itu anaknya sendiri. Begitulah kisahnya.
3. Semoga Pakcik Tandek Sedah mendapat haji yang mabrur. kemarin beliau menghubungi saya dari Madinah dan berkata beliau memanggilmanggil nama saya tanah suci dan semoga saya apat menunaikan umrah dan haji. Mudah-mudahan kata saya dalam hati.
4. Saya mendapat kiriman antologi buku puisi antropologi dari abang Abdillah SM, yang dikirimkannya melalui Ampuan Awang Saya belum sempat membacanya kecuali sebuah dua saja. menarik bait-bait puisi yang ditulisnya. Smpat juga berbincang dengan Sdr jamrin wahid mengenai program bersama IPS dan Biro Kebudayaan, Kesenian dan warisan UMNO Sepanggar mengenai program baca puisi Di Ambang 2010 pada 31 Disember nanti..
5.Life Is Short, Art is Long, Knowledge is Power," kata Kadirshah tahun lalu. Rakannya, Kasiran marah dan meminta kadir bercakap dalam bahasa Malaysia."Kalau kita hidup di Malaysia, kita mesti berbahasa Malaysia. Ini tempat kita," katanya ketika kami melawat Rumah Warga Tua Sri Pritchard Kinarut.Pagi ketika berkunjung semula kesana, saya cuba mencari mereka. "Dua-duanya sudah meninggal," kata Ahmad Zaini.

Monday, November 23, 2009

Catatan ringkas mengenai pakcik magit

Saya tidak tahu berapa umur pakcik Magit sekarang. Sudah lama saya tak dapat menghubunginya. Semoga beliau sihat wal afiat. Siapa Magit bin Julan? bagi sebilangan orang, mereka hanya melihat pakcik Magit sebagai seorang penggiat politik kampung, dan tak lebih dari itu.
Tetapi sebenarnya, peranan pakcik Magit Julan jauh lebih besar daripada itu. Beliau merupakan salah seorang yang berani berhadapan dengan Suruhanjaya Cobbold ketika suruhanjaya itu membuat referendum di Kota Belud pada awal 60-an.
Saya pernah menginterviu pakcik Magit.Sayang sekali saya tidak menemui buku catatan saya. Tetapi saya ingat, beliau merupakan orang Kota Belud yang berani berhadapan dengan Cobbold Commision mengenai pembentukan malaysia.
Saya fikir sementara pakcik Magit sihat walafiat, ada baiknya juga para pengkaji, peneliti dan mahasiswa mengkaji peranan beliau dan buah fikiran beliau ketika mula-mula pembentukan malaysia dahulu.

Mengenai orang-orang yang diarah berpindah

Petang Isnin itu, 23 November, kami ke Likas. Ketua Bahagian UMNO Sepanggar, Jumat Haji Idris mengadakan sidang media mengenai masalah yang menimpa penduduk kampung di Lembaga Padi Inanam. Sesampai di rumahnya, beliau menceritakan mengenai duduk perkara,mengenai kampung yang wujud sejak tahun 78 dan kemudian kelulusan tanah itu diberikan kepada sebuah syarikat pada tahun 2003.
Kerana itu, penduduk kampung yang lebih dulu duduk di situ dituduh menduduki tanah orang atau dengan istilah kasarnya menceroboh, walaupun ketika mereka menduduki tanah itu, ia masih tanah kosong.
Mereka melawan di mahkamah. Di satu peringkat, kata mereka, peguam yang dilantik bagi mewakili penduduk kampung itu menghilang tidak dapat dikesan menyebabkan penduduk kampung akhirnya kalah dalam proses pengadilan.
Oleh kerana itu, Mahkamah kemudian mengeluarkan perintah supaya penduduk berpindah dalam tempoh 14 hari.
UMNO Sepanggar, kata Jumat akan mencari kaedah terbaik untuk membantu penduduk mendapatkan rumah di Telipok Ria, dan juga mahu membantu untuk meringankan beban mereka supaya mendapat kelonggaran membayar deposit RM780 seorang,
Seramai 378 buah keluarga terlibat . Jumat menasihatkan mereka supaya tidak membuat perkara yang bertentangan dengan undang-undang. Perintah mahkamah haruslah dipatuhi kerana jika perintah mahkamah tidak dipatuhi, dunia cepat kiamat. Katanya separuh benar, separuh berjenaka. Beliau memberitahu ADUN Karambunai juga, YB Datuk Hajah Jainab Haji Ahmad sedang berusaha untuk injunksi di mahkamah sipaya perintah itu tidak dilaksanakan.
Umno Sepanggar juga mahukan agar penduduk diberi tempoh yang lebih lama untuk membolehkan mereka berpindah tanpa tergesa.
Beliau berkata, kunjungannya ke kampung itu adalah bagi menyempurnakan amanat Ketua Menteri,Datuk Seri Musa Haji Aman yang mengarahkan Ketua Bahagian UMNO sepanggar dan Menteri Kerajaan Tempatan dan Perumahan, Datuk Hajiji Haji Noor supaya mencarikan tempat untuk penduduk kampung Lembaga padi berpindah dalam mesyuarat UMNO yang lalu iaitu pada 21 Nov. Tapi belumpun sempat `payung disediakan' hujan sudah turun. Arahan mahkamah diterima pada 23 Nov, menyebabkan berlaku kehebohan di kampung itu. Timbalan Ketua Bahagian, Yakub Khan dan Setiausaha UMNO Bahagian, Razali haji Radzi turut menyertai sesi untuk memberi penerangan kepada penduduk Kampung Lembaga Padi itu.




Sunday, November 22, 2009

Jamrin, seniman yang penuh semangat

Jamrin Haji Wahid masih seperti dahulu. Seorang yang penuh semangat. Seniman ini merupakan johan Sayembara Deklamasi Puisi Hari Kebangsaan ketika pertama kali ia diperkenalkan dahulu. Jamrin, seorang penggiat teater yang tidak asing lagi kini sedang tekun berlatih untuk Teater Merah Buminya yang akan dipentaskan awal tahun depan. Jamrin kini yang kini Pengerusi Biro Kebudayaan, Kesenian dan Warisan UMNO Sepanggar tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan seni.
Projek terbaru yang akan diadakan bersama oleh Ikatan Penulis sabah (IPS) dan Biro Kebudayaan, Kesenian dan warisan UMNO Sepanggar ialah Program Baca Puisi Diambang 2010 yang akan diadakan 31 Disember nanti hingga jam berdenting menandakan detik ketibaan 2010.

SUKA-DUKA PERJUANGAN USIA


SUKA-DUKA PERJUANGAN USIA
DALAM SPU

Oleh ABD.NADDIN HJ SHAIDDIN

Bagi masyarakat Islam di Sabah, 16 Ogos 1969 dianggap tarikh keramat kerana pada hari itulah azan berkumandang di Dewan Masyarakat Kota Kinabalu bagi menandakan kelahiran sebuah pertubuhan Islam yang dikenali Pertubuhan Islam Seluruh Sabah atau USIA.
Pada hari yang bersejarah itu, lebih 300 orang Islam yang datang dari seluruh Negeri Sabah berhimpun di dewan tersebut untuk satu tujuan semata-mata, iaitu untuk menyempurnakan penubuhan USIA.
Tetapi sebelum itu, perlu juga disebut peranan belakang tabir tiga persatuan Islam di Sabah – Persatuan Islam Putatan (PPP), Persatuan Islam Tawau (PIT) dan Persatuan Islam Sabah (PIS) – kerana permuafakatan dan kesepakatan pemimpin ketiga-tiga persatuan itulah yang telah merintis jalan kearah penubuhan USIA.
Bertindak atas kesedaran hendak menyatupadukan masyarakat Islam di Sabah, pemimpin ketiga-tiga persatuan itu kemudian menemui Tun Datu Mustapha bin Datu Harun, yang ketika itu menjadi Ketua Menteri Sabah, untuk memberi mandat kepada beliau bagi mencari jalan bagaimana hendak menubuhkan sebuah persatuan Islam yang lebih jitu dan mampu menyatupadukan masyarakat Islam di seluruh Sabah.
Menurut buku itu, Pendaftar Pertubuhan meluluskan pendaftaran USIA pada 10 Oktober 1969.
Demikianlah antara catatan yang dipaparkan dalam Sinar Perjuangan USIA, sebuah buku terkini terbitan USIA, mengenai sejarah penubuhan dan perjuangan USIA.
Buku setebal 180 muka surat itu ditulis oleh Emin Madi, seorang wartawan veteran yang telah berkecimpung dalam dunia kewartawan sejak 70-an lagi..
Mantan Perdana Menteri, Tun Dr Mahathir bin Mohamad, telah merasmikan pelancaran buku itu bersama dengan sebuah lagi buku ‘Back To The Al-Quran’ tulisan Ustaz Abuhuraira Abdurrahman, sempena Perhimpunan Agung Tahunan USIA di 1Borneo 14 November lepas.
Selain itu, ‘Sinar Perjuangan USIA’ juga memaparkan memaparkan tentang kejayaan gerakan dakwah besar-besaran USIA di awal tujuhpuluhan, dimana lebih 50,000 saudara baru telah memeluk agama Islam.
Antara pemimpin Sabah yang terawal memeluk agama Islam ialah Pesuruhjaya Tinggi Malaysia ke Australia, Tan Sri Donald Stephens, yang memilih nama Muhammad Fuad Stephens dan Menteri Pengangkutan Persekutuan Dato Ghani Gilong.
Ekoran kejayaan gerakan dakwah USIA itu telah membawa kepada penubuhan Majlis Ugama Islam Sabah (MUIS) melalui persidangan Dewan Undangan Negeri Sabah pada 21 Julai 1971.
Menurut buku itu, kemuncak perjuangan USIA ialah dengan kelulusan Sidang Dewan Undangan Negeri pada 23 September 1973 yang meluluskan peruntukan baru dalam Perlembagaan Negeri, iaitu menjadikan Islam agama rasmi Negeri tetapi agama-agama lain boleh diamalkan secara aman dan harmoni di mana-mana tempat dalam negeri.

Buku tersebut turut memaparkan ‘suka duka’ perjuangan USIA, terutama sekali selepas Kerajaan USNO tumpas pada pilihanraya umum negeri 14 April 1976.
Paling menyedihkan ialah apabila Yang DiPertua USIA, Tun Datu Haji Mustapha bin Harun terpaksa melepaskan jawatan itu pada 13 Mei 1994 atas sebab kesihatan.
Dalam surat peletakan jawatan itu, Tun Datu Mustapha sempat memberi nasihat dengan berkata: ‘insan yang hidup haruslah membuat kebajikan kepada agama dan masyarakat Islam.’
Timbalan Yang Dipertua USIA, Haji Sakaran Dandai (kini Tun) kemudian mengambil alih jawatan Yang Dipertua USIA beberapa hari kemudian.
Ketika ditemui baru-baru ini, Tun Sakaran bersyukur kerana hasrat USIA menerbitkan buku mengenai sejarah penubuhan dan perjuangan badan Islam itu akhirnya tercapai.

“Buku (Sinar Perjuangan USIA) ini sangat penting sebagai satu dokumentasi sejarah penubuhan dan perjuangan USIA untuk menegakkan syiar Islam serta mengangkat maruah dan martabat masyarakat Islam.
“Kebimbangan saya ialah masyarakat Islam, terutama sekali generasi muda dan akan datang, mungkin lupa tentang sejarah tanah air, terutama sekali mengenai nasib dan keadaan masyarakat Islam di Sabah semasa zaman pemerintahan penjajah.
“Buku (Sinar Perjuangan USIA) ini patut dimiliki dan disimpan oleh orang-orang Islam supaya ia dapat diwarisi oleh generasi akan datang,” kata Tun Sakaran.
Sinar Perjuangan USIA, yang kini dalam pasaran, turut memuatkan gambar-gambar para pemimpin pengasas USIA, termasuklah Dato Haji Mohd. Kassim bin Haji Hashim, Tun Mohd. Said Keruak, Dato Habib Ab Rahman, Dato Haji Mohd Yassin Hj Hashim, Datuk Salleh Sulong, Dato Harris Mohd. Salleh, Dato Lokman Haji Musa dan Dato Dzulkifli Abdul Hamid.
Turut dimuatkan ialah gambar-gambar Ahli-Ahli Majlis Tertinggi (Pengasas) USIA dan mantan-mantan Setiausaha Agung USIA.

Orang-orangan, penjaja kebencian, si dalomangkob dan bloggers kita



Kerjaya sebagai wartawan memungkinkan saya untuk bertemu dengan pelbagai jenis orang. Kecuali orang halus, orang bunian atau orang minyak, saya telah bertemu dengan orang awam, orang bawah, orang atas, orang belakang, orang rumah, orang besar,orang hulu, orang bukit, orang buangan, orang dagang, orang kaya,orang gaji, ,orang timur, orang barat, orang kampung, orang kecil, orang muda, orang lama, orang luar, orang dalam, orang sakit, orang miskin, orang tua, orang suruhan malah saya telah bertemu dengan orang utan dan orang-orangan.

Jenis yang terakhir inilah-orang-orangan- yang ingin saya tulis pada ruangan kali ini. Mengikut Kamus Dewan, orang-orangan bermaksud tiruan orang, boneka, patung atau sejenis patung yang dibuat untuk menakutkan burung.

Orang-orangan inilah yang banyak menulis dalam blog, menyamar dan yang paling membimbangkan ialah apabila mereka menjadi penjaja kebencian, hatred-monger yang antaranya memakai jaket bloggers, menyamar menggunakan jubah agama, baju politik dan sebagainya.

Hatred-monger atau penjaja kebencian, meminjam istilah Prof.Dr.Azyumardi Azra, ini terus menyebarkan sengketa, salah faham dan sebagainya dengan membungkusnya menggunakan isu-isu, antaranya perkauman dan agama, yang pada akhirnya mencetuskan ketegangan.

Tidak jarang saya menerima telefon meminta ditulis begitu begini, tidak kira waktu, sama ada pada waktu tengah malam atau ketika awal pagi sebelum mandi dan bersarapan. Unsur perpecahan berteras kaum dan agama, kata Datuk Masidi Manjun, perlu dielakkan.

Kita boleh bersikap toleransi dengan perbezaan, kata Masidi kerana kadang-kadang perbezaan merupakan elemen yang menjadi tonggak kekuatan kita. Kebebasan bersuara hendaklah digunakan sebaik mungkin dalam dunia demokrasi kita tetapi ia haruslah digunakan secara adil dan bertanggungjawab.

Adil menurut Buya Hamka ialah menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak yang empunya dan jangan berlaku zalim diatasnya. Saya fikir itulah yang perlu kita lakukan.Penjaja kebencian, hatred-monger apapun dan siapapun dia, haruslah lebih adil dan lebih bertanggungjawab dengan hanya menyatakan yang benar, menyalahkan yang salah dan tidak menyebarkan kebencian, sengketa, salah faham, ketegangan dan sebagainya apalagi jika ia berunsurkan perkauman dan agama.

Para bloggers kita bertanggungjawab untuk menyampaikan yang benar. Orang yang tidak benar ialah orang yang tidak menjalankan yang benar dan tidak pula menerima kebenaran, kata Datuk Haji Arifin Arif, penulis yang kini menjadi wakil rakyat Membakut.

Katanya, golongan ini disebutkan oleh Allah S.W.T sebagai mereka yang punya hati tetapi tidak mahu mengerti, punya mata tetapi tidak mahu melihat kebenaran dan punya telinga tetapi enggan mendengar kebenaran.

Oleh sebab itu, mereka asyik menyerang, menghina malah mempersendakan si dalomangkob. Siapa si dalomangkob dan apa makna dalomangkob?. Dalomangkob adalah satu perkataan dalam bahasa Iranun yang bermakna pemimpin, sang juara, si pintar, hero,superior dan sebagainya.

Dalam satu bayuk, seni puisi tradisi sukubangsa Iranun yang berbunyi, ainungka ib paar, bainungka di' dsabut, sakenman i dalomangkob, sa langun a redsa aken yang kalau diterjemahkan berbunyi mengapa engkau pertanyakan,kenapa tak ingin mengerti, bahawa akulah yang terbaik, di antara rakan sebaya.

Tetapi dalam bayuk ini, dalomangkob boleh diertikan sebagai lebih gagah, lebih hebat, lebih baik, lebih hero, lebih superior dan sebagainya. Barangkali kerana sikap lebih superior, merasa lebih hebat dan menganggap orang lain salah dan tidak setara yang menyebabkan timbul rasa tidak puas hati lalu menumbuhkan kebencian.

Situasi ini diperburukkan lagi apabila penjaja penjaja kebencian bermunculan bukan saja di dunia nyata malah di dunia siber.

Panah demi panah dilepaskan untuk menyerang apa saja idea, konsep atau usaha yang dikemukakan oleh si dalomangkob menggunakan blog, kerana pada mereka, si dalomangkob tidak berbuat banyak untuk kepentingan bangsa dan negara. Si dalomangkob dikatakan hanya pandai berkata-kata, dan tidak melaksana tanggungjawabnya dengan baik. Jikalau kita bertanya, siapa sebenarnya si dalomangkob, saya fikir kita semua boleh menjadi si dalomangkob.

Kita juga sebenarnya berpotensi untuk menjadi hatred-monger, si penjaja kebencian sekiranya kita menyampaikan fitnah, desas desus, khabar angin, salah faham dan sebagainya dengan nawaitu yang tidak ikhlas, iaitu bertujuan untuk memporak-porandakan kestabilan dan menjatuhkan seseorang pemimpin, apatahlagi jika perbuatan itu dilakukan secara tapuk-tapuk dan berselindung..

Saya dapat menghargai malah menghormati orang yang berbeza pendapat dan pandangan asalkan jelas identitinya. Tidak bersembunyi di sebalik nama-nama misteri, aneh dan menjadi orang-orangan.

Orang-orangan inilah yang muncul menjaja kebencian.Saya fikir inilah cabaran yang menggugat perpaduan dan persaudaraan.Elemen-elemen perbezaan yang sengaja diperbesar-besarkan menyebabkan rakyat di negeri ini berkecamuk dalam sengketa yang berpanjangan.

Kalaupun kita berbeza pandangan politik , kita tidak harus dipersempit oleh anutan ideologi politik kepartian. Sebaliknya kita haruslah kembali kepada nilai-nilai yang adil, yang benar, yang baik, yang jujur dan sebagainya kerana nilai-nilai inilah yang membolehkan kita hidup sejahtera, lebih murni, lebih mulia dan lebih indah.
Tersiar dalam Utusan Borneo 23 November 2009

Tuesday, November 17, 2009

Makan Nasi Lalap di warung kita

Sebelum balik kami singgah ke Warung Kita yang terletak di seberang jalan beberapa ratus meter dari Marudu Inn tempat kami menginap. Kami makan nasi lalap, mungkin yang paling sedap nasi lalapnya di sekitar pekan Goshen.








Di Torong Soko, satu malam

Bagi menghilangkan keletihan setelah berbengkel sepanjang hari, kami ke Restoran Torong Soko untuk makan malam dalam satu perjalanan yang turut meletihkan dari Pekan Goshen. Jauh juga perjalanan kami sehingga memakan masa hampir setengah jam untuk sampai.
Cikgu tahu kenapa perjalanan kita tadi terasa lebih jauh? tanyaku.
Perjalanan pergi terasa jauh kerana semua mahkluk yang kita lewati bertanya kepada kita.
Itu sebabnya perjalanan pergi selalu jauh terasa kerana pohonan dn sebagainya bertanya kemana kita pergi .
Kerana itu perjalanan pulang terasa lebih cepat kerana rumput, pohon-pohon dan sebagainya tidak lagi bertanya kepada kita.
Semua makhluk bisa bicara dengan bahasanya masing-masing.

Kak Ony

Ustazah Ony Latifah Osman yang biasa kami sama sebagai Kak Ony itu bukan saja seorang pendidik yang berwibawa malahan seorang pencinta seni tradisi khususnya lagu-lagu warisan suku kaum Kimaragang.
Beliau sedang menjelaskan kepada rakan-rakan bloggernya mengenai khazanah warisan Kimaragang yang patut dipertahankan.
Gambar ini diambil di rahaya cafe, restoran di belakang Marudu Inn ketika pertemuan kami dengan cikgu Androd sadian, penghulu para bloggers di kota marudu. DJ Tom, yang rupa-rupanya berasal dari Taginambur KB dan DJ Siirutt, betulkan ejaan saya ini, dalam satu pertemuan yang mengesankan. Kami menyelinap keluar dicelahcelah kehangatan perbincangan kosakata bahasa sukuan untuk memenuhi temujanji dengan Sang Guru yang telah lama menunggu.

Pertemuan di Rahaya Cafe


Saya sangat yakin dialah Sang Guru, penghulu para bloggers di Kota Marudu yang bergabung dalam Suara Anak Marudu.

Pernah kita berjumpa sebelum ini? tanyanya sebaik saya duduk.
"Belum pernah, kita hanya pernah jumpa di blog," saya memberitahunya. Walaupun kami belum pernah berjumpa, tapi pertemuan itu terasa akrab dan seolah-olah kami kawan lama yang lama tidak berjumpa.
Cikgu Androd, saya kira sudah lama menunggu di Restoran itu, kerana barangkali kak ony tersilap bagi informasi. Ketika beliau sampai di restoran belakang marudu inn itu, kami sedang makan malam di Torong Soko, setengah jam jauh perjalanannya dari Goshen.
Sebaik sampai kami menghadiri sesi perbincangan kosakata bahasa sukuan. Tidak lama kemudian,Saya menyelinap keluar untuk menemui cikgu Androd dan rakan-rakan kerana kami berjanji jam 10.30 malam
Banyak juga isu yang kami bincangkan termasuklah isu-isu budaya, Sang Guru mencadangkan supaya bloggers di satu-satu daerah membentuk komuniti bloggers, peranan yang boleh dimainkan bloggers dan bermacam perkara lagi.

Saya berasa gembira dengan pertemuan itu. Sengaja saya tidak memberitahu lebih awal kedatangan saya, tetapi saya berhasrat untuk sekurang-kurangya bertemu Cikgu Androd dalam kunjungan saya ke Kota Marudu kali ini. Dan saya bersyukur kerana berjumpa juga dengan DJ Tom dan DJ Siirutt.
Suara Anak Marudu (SAM) yang boleh dijangkau melalui http://www.marudubloggers.blogspot.com yang mempunyai ramai ahli terdiri dari anak-anak Marudu di Tandek, Kota Marudu,Kota Kinabalu, Kuala Lumpur malah anak marudu di Jepun, merupakan blog bersekutu pertama di Malaysia. Motonya Informatif-Kreatiuf-Berani manakala DJ Tom itu pula bergerak sebagai DJ Utara FM.
Peranan dan sumbangan SAM dan Utara FM dalam proses pembinaan negara tidak boleh dinafikan dan media baru seperti blog, facebook, friendster dan sebagainya mempunyai andil besar dalam menentukan kejayaan dan kemajuan negara di masa depan.



Selepas bersidang di Marudu Inn


Pegawai Perancang Bahasa DBP, Saudara Abd.Nassir Said menyampaikan sijil penghargaan kepada pakar-pakar bahasa sukuan dari etnik Kimaragang, Sungai, Rungus dalam Sidang Pengumpulan dan Pengesahan Bahasa Sukuan yang diadakan di Marudu Inn.Kelihatan Ustazah Ony Latifah Osman, Sitti Rahmah G.Ibrahim, Mahali Makiang, Raymond Majumah, Haji Ahmad Abdul menerima sijil penghargaan masing-masing dalam satu majlis ringkas di Marudu Inn.























ketika minum pagi di restoran azizah KM

Ketika minum pagi di Restoran Azizah Kota Marudu, saya diperkenalkan oleh kak Ony kepada Hajah Saripah, isteri kepada Haji Medinah. Saya tiba-tiba teringat cerita bapa saya betapa beliau sangat rapat dengan Haji Medinah itu ketika bertugas di Kota Marudu dalam tahun-tahun 70-an dahulu. Saya kenal anaknya bernama Lorence yang bekerja di Jabatan Hal Ehwal Khas Sabah (JASA). Dalam gambar ini, saya berkenalan dengan zaini, adik kepada Lorence.
Saya sengaja merakamkan gambar kenangan ini untuk memberitahu bapa saya bahawa saya berjumpa dengan rakan-rakan lamanya di kota marudu. Ketika itu bapa saya, Haji Shaiddin Haji Mohd Hassim, kalau tak silap bekerja sama ada di Lembaga Padi Sabah sebagai Padi Assistant atau di Jabatan Pertanian.
Tapi ramai juga rakan-rakan lamanya di Bandau selain keluarga kami yang memang ramai di daerah itu.








Sidang Pengumpulan dan Pengesahan Bahasa Sukuan


Sidang Pengumpulan dan Pengesahan Bahasa Sukuan DBP Sabah di Marudu Inn, Pekan Goshen Kota Marudu 15-17 Nov 2009












Sunday, November 15, 2009

Kasihan Bangsa, kata Kahlil Gibran

Siapakah penyair yang tidak mengenal Kahlil Gibran? Mungkin tidak ramai yang tidak mengenalnya.Penyair ini telah menghasilkan sajak-sajak yang indah, yang penuh pesan yang membuka jalan fikiran.
Saya teringat sajaknya ketika seorang rakan di facebook memposting sajak penyiar Lubnan ini. Barangkali bagus juga kalau kita dapat baca dan fikirkan bersama-sama maksud Kahlil Gibran yang meratapi nasib bangsanya.Barangkali akan ada manfaatnya jika kita dapat merenungkannya bersama-sama untuk sekadar intropeksi diri.

Kasihan bangsa
yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa
yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa
yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa
yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa
yang negarawannya serigala,falsafahnya gentong nasi,dan senimannya tukang tambal
dan tukang tiru.

Kasihan bangsa
yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan
namun melepasnya dengan cacian,hanya untuk menyambut penguasa baru lain
dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa
yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa
yang berpecah-belah,dan masing-masing menganggap dirinya sebagai satu bangsa.

Khalil Gibran

Usia pilih barisan mantap

Perhimpunan Agung USIA yang ke 23, baru saja berlalu pada 13 hingga 15 November Lepas di Grand Ballroom, Novotel 1 Borneo.Seramai 293 perwakilan telah menghadiri perhimpunan tahunan yang diadakan setiap tahun itu. Bezanya kali ini, USIA mengadakan pemilihan bagi bagi memilih barisan kepimpinan 2009 hingga 2011.
Tun Datuk Seri Panglima Dr.Haji Sakaran Dandai, seperti pada tahun-tahun yang lalu menang tanpa bertanding sebagai Yang Di Pertua USIA. Kepimpinan dan sifat kebapaannya amat diperlukan oleh ahli-ahli USIA di seluruh negeri dan beliau terus menjadi figur penting dalam usaha USIA meneruskan perjuangannya turut sama membangun umat Islam di negeri.
Jawatan Timbalan Yang Di Pertua juga kekal tanpa pertandingan. Dua jawatan Timbalan Yang Di Pertua itu terus dipegang oleh Datuk Seri Panglima Lajim Haji Ukin yang juga Timbalan Menteri Perumahan dan Kerajaan Tempatan dan Tan Sri Datuk Seri Panglima Haji Ampong Puyon seorang pemimpin yang sudah bergiat dalam USIA sejak sekian lama.
Jawatan Naib Yang Di Pertua juga dimenangi tanpa dipertandingkan. Lima pemegang jawatan Naib Yang Di Pertua ialah , Datuk Haji Datu Nasrun Datu Mansur, Datuk Haji Aidi Moktar Lamsil Hamidsor, Haji Amin Ibrahim dan Datuk Haji Aklee Haji Abbas.
Datin Hajah Norsuadah Haji Basah menang tanpa tanding bagi jawatan Ketua Wanita USIA.
Manakala bagi jawatan 18 Ahli Majlis Tertinggi dimenangi oleh Haji Abd Latif Kandok (211 undi) 2. YB Datuk Haji Sapawi Haji Ahmad (205). 3 Madaile Haji Basri (195).4 Haji Yusof Haji Afdal (194). 5 Haji Uda Sulai (192). 6. Jenar Haji Lamdah (188). 7. YB Datuk Haji Ariffin Mohd Arif (184). 8 Datuk Haji Arshad Haji Idris (167). 9 Datuk Hjh Noraini DSP Haji Salleh (163). 10 YB Datuk Haji Surady Kayong (156). 11 Edul Hj Mulud (152). 12 Hajah Nanih Abbah (150). 13 YB Datuk Nilwan Kabang (147). 14 Prof. Dr Kassim Haji Mansor (141). 15 Ustaz Bongsu Aziz Jaafar (136). 16 Haji Ariffin Haji Sani (133). 17 Pg Saifuddin bin Pg Tahir (131). 18 Mohd Ali DSP Haji Omar (130).

Jawatan Ketua Belia dimenangi oleh Abd Hakim Haji Gulam Hassan (146) dengan kelebihan satu undi mengalahkan YB Datuk Haji Sairin Karno (145)

Catatan Perjalanan ke Kota Marudu

Saya sudah menunggu di perhentian bas Kampung Cenderamata Dua Likas sejak 7.00pagi. Tidak lama kemudian Azlee datang bersama Kak Sitti Rahmah. Kami akan ke Kota Marudu untuk menghadiri Sidang Pengumpulan dan Pengesahan Bahasa Sukuan anjuran DBP Sabah di Marudu Inn.

Rupanya kak Ony sudah berjalan duluan sesampainya kami di Tuaran. Kak Sitti menelefonnya kerana pada mulanya Kak Ony dijadual menunggu di Restoran D Sayang dekat bulatan. Akhirnya kami meneruskan perjalanan walaupun ada rancangan untuk makan kuih pau sedap di kedai itu.

Sejam kemudian, kami sudah sampai di Kota Belud dan melalui laluan baru jalan Kota Belud Kudat dan melihat pemandangan sawah padi yang baru ditanam dan yang menguning di kiri kanan jalan.
Amir menunggu di hujung jalan baru itu kerana saya ingin berjumpa dengannya. Dia akan ke KK hari ini untuk menguruskan pembayaran Astro yang kena potong sebelum tiga bulan.
"Saya tunggu di hujung jalan baru, dekat kedai 10 sen" katanya.
"Kedai 10 sen?"
"Ya, gerai yang menjual kuih sebiji RM0.10 sen",katanya. Barangkali inilah satu-satunya gerai yang menjual kuih termurah di Malaysia ketika ini. Sepuluh sen sebiji,ketika kuih di KK sudah berharga paling murah 30 sen sebiji. Bahkan kalau ada yang menjual 50 sen atau seringgit sebiji pada zaman yang serba gila ini.

Kami teruja untuk singgah membeli kuih. Kerana harganya murah maka kami membeli pelbagai jenis kuih. Iya, benar sebiji kuih berharga sepuluh sen dan walaupun agak comel tetapi sedap.
Sempat juga kami makan tapai nasi sambil berdiri, sedap rasanya.Barangkali pemilik gerai itu agak hairan melihat telatah kami.

Ketika melewati Anjung Kesapang, Azlee memberitahu restoran itu menjual rojak paling sedap di Kota Belud. Kami ingin mencubanya tetapi sudah terlajak dan kami perlu sampai di Marudu Inn tepat jam 10.00 pagi.

Sepanjang jalan, banyaklah topik yang kami percakapkan. Ehwal meriam di Pandasan, makam Embo Ali hinggalah komentar seorang rakan dari Semenanjung yang menyatakan langsat yang paling terbaik di Malaysia ialah langsat yang dijual di gerai tepi jalan di Pandasan itu.

Ah,masakan semuanya terbaik. Tapi ini pendapat orang mengenai langsat Pandasan itu. Lucu juga mendengar cerita Abd.Nassir, pegawai projek bahasa sukuan DBP Sabah mengenai rakan kami Haji Ahmad Abdul dari Sandakan,pakar bahasa Sungai yang minta diambil di ofisnya. Ingatkan ofisnya dimana, tapi ketika ditanya dimana ofis cikgu di KK, jawabnya di Restoran Islamic Kampung Air.

Kami tersenyum mendengarnya, tapi mengakui hakikat bahawa restoran itu sudah sejak sekian lama menjadi lokasi pertemuan di seluruh Sabah.

Selepas makan tengahari tadi, pelayan restoran tempat kami makan itu tergamam ketika Haji Ahmad Abdul tiba-tiba minta `screw driver'.
Untuk apa `screw driver'?
Rupanya screw driver itu istilah bagi pencungkil gigi, yang bagi setengah orang dipanggil `kayu balak' itu.

Saturday, November 14, 2009

"Saya tak mahu menonjolkan diri,"kata Cikgu Sabli

Dua kali ditawarkan untuk bertanding pilihanraya, dua kali itulah beliau menolak. Dua kali ditawarkan untuk diberi bintang yang membawa gelaran datuk, dua kali itu juga beliau menolak.
Ada apa gerangan?
"Saya tak mahu menonjolkan diri," katanya. "Cukup setakat saya menjadi cikgu saja," katanya merendah diri. Tetapi hidup di bawah tekanan penjajah tidak membuatkan ia takut, malah pernah di buang daerah ke Tawau semata-mata kerana bergiat dalam politik.
Beliau ialah Cikgu Sabli Mohidin, Setiausaha Agung Pertama, USNO atau Parti Kebangsaan Sabah Bersatu yang dipimpin oleh Almarhum Tun Datu Mustapha Datu Harun. Beliau menjadi Setiausaha Agung USNO selama sembilan bulan hingga Disember 1961.
Cikgu Sabli menilai tindakan yang diambil oleh Datuk Chong Kah Kiat ketika menjadi Ketua Menteri dengan menamakan Bangunan Yayasan Sabah sebagai Menara Tun Mustapha merupakan satu tindakan terpuji. Begitu juga apa yang dilakukan oleh Datuk Yong Teck Lee ketika menjadi Ketua Menteri iaitu memulihara Makam Tun Mustapha di Kampung Ketiau Putatan.
"Saya tabik mereka," katanya. Semua ini tidak berani dilakukan oleh ketua ketua menteri kita yang lain.
Bercakap mengenai USNO, Cikgu Sabli tetapkan cintakan USNO. Ketika ramai orang menaiki kapal besar untuk pelayaran yang jauh, ada penumpang yang sengaja ditinggalkan. Ada yang dihumban ke laut ketika dalam perjalanan dan sebagainya.
Katanya, kita harus kembali kepada perjuangan kita yang asal.

Saya sengaja mengambil gambar orang tua ini. Saya sudah lama berhasrat untuk menembualnya tapi tak kesampaian sehinggalah kami bertemu di luar Perhimpunan Agung USIA kali ke -23.
Saya memanggil Rashid, wartawan Utusan untuk memperkenalkannya kepada Cikgu Sabli. Kami tidak melepaskan peluang untuk merakamkan gambar bersamanya.
Kami ingin merakamkan sejarah perjuangannya, sehingga sanggup berhadapan dengan penjajah, sanggup dibuang daerah, sanggup segalanya, demi perjuangan membela bangsa.
Ketika bertemu dengannya, beliau seperti cepat membaca fikiran kami iaitu mengapakah orang-orang seperti ini dilupakan jasa baktinya.
"Saya tidak ingin menonjolkan diri," kata Cikgu Sabli, yang bukan setakat guru sekolah tetapi seorang tokoh sejarah ketika negeri kita membebaskan diri dari belenggu penjajah dan ingin merdeka.








Sekadar Kenangan di Wisma Kewangan

Saya tak tahu apa yang sedang bermain dalam fikiran rakan-rakan saya ini, ketika saudara Liaw Sin Kuang mengambil gambar kami.

"Ini untuk masuk facebook" kata NT. Tetapi saya kira lebih daripada itu. Peluang sebegini amat jarang diperolehi meskipun kami sering berjumpa dalam majlis-majlis tertentu. Biasanya masing-masing sibuk dengan buku catatan dan tape recordernya kerana menjalankan tugas sebagai wartawan.

Saya kira kehidupan orang orang sekarang tidak lengkap tanpa membaca suratkhabar, (ditambah kini dengan laman web, blog dsbnya) setiap hari. Dan semuanya ini tidak mungkin ada tanpa kehadiran wartawan. Sebagai saksi sejarah,kadang turut menjadi pelakunya, peranan wartawan amatlah penting. Ia bukan sekadar, get it first bahkan juga first get it right. Cabaran wartawan memang banyak dan pelbagai ketika menjalankan tugas tugas seharian. Tetapi saat-saat seperti ini mampu menjadi pengubat keletihan dan kelelahan ketika bekerja.
Teoh sedang berdiri di tiang,Steven dudukdi hujung sekali,kemudian kelihatan Voo, lalu NT, Ketua Biro Bernama Sabah. Saudara Azrone (Berita Harian) lalu saya, kemudian muhamad dari JKM dan rakan senior dari RTM.

Kami duduk di Wisma Kewangan,ketika letih menunggu majlis penyerahan bantuan kepada pekebun sawit persendirian oleh kerajaan negeri.

Lalu kami minta bantuan saudara Kuang untuk mengambil gambar kami menggunakan kamera Azrone dan Kuang. Jangan lupa kirim gambar ya! dan Kuang menunaikan janjinya ketika anda menatap foto wartawan Sabah ini.

Thursday, November 12, 2009

Langgar kami rosak ditiup angin

Kawan saya dari kampung Kawang Kawang Kota Belud memberitahu bahawa `langgar' di kampung mereka, bumbungnya sudah diterbangkan angin ribut kira-kira lima minggu lepas.
Langgar? Perkataan ini sangat jarang digunakan orang Iranun di Kota Belud sebagai gantinama masjid atau surau.Hanya beberapa buah kampung seperti kawang-kawang, kaguraan, pandasan dan penampang yang masih menyebut masjid di tempat mereka sebagai langgar.
Sebenarnya langgar adalah bahasa Melayu lama yang sama maknanya dengan surau dan madrasah.
Istilah `peranggar' pula saya ditemui di kalangan orang tua-tua di Kampung Pantai Emas. Sharif Perais Haji Sharif baba menyatakan bahawa `peranggar' maksudnya membawa makanan atau juadah untuk dihidangkan untuk jemaah masjid.
saya fikir ada baiknya juga kalau ada pihak yang membuat pemetaan bahasa linguistic mapping supaya kita mengetahui kampung mana yang menggunakan langgar dengan maksud surau atau masjid dan kawasan mana yang tidak.
Kajian ini sebenarnya menarik bagi kita mengetahui sejak bila perkataan langgar masuk dalam bahasa Iranun.
saya teringat kata Kawa, yang bermaksud kopi. Sebenarnya perkataan kawa ini diambil bahasa Arab kehwa yang bermaksud kopi. Oleh itu, kita boleh membuat kesimpulan bahawa kopi diabawa oleh pedagang-pedagang Arab ke dunia Iranun. Ketika saya bertanya Prof.Dr.Nagasura Madale, apa yang diminum orang Iranun sebelum itu, beliau berkata, bahawa orang Iranun minum loya a pagirisan, iaitu halia.Air halia atau teh halia.
Sebutan yang sama digunakan oleh orang masyarakat Islam di Mindanao khususnya orang Maranao yang sebenarnya amat rapat hubungan bahasa dan budayanya dengan masyarakat Iranun kerana mereka berasal dari tradisi dan nenekmoyang yang sama.

Tuesday, November 10, 2009

SK St Peter Kudat hargai pelajar cemerlang

















-Sekitar Majlis Anugerah Kecemerlangan SK St PETER KUDAT 2009

Sejak awal pagi lagi warga SK St Peter Kudat memenuhi Dewan Tun Mustapha untuk menghadiri Majlis Anugerah Kecemerlangan 2009 yang diadakan secara besar-besaran bagi meraikan pelajar-pelajar yang cemerlang dalam pelbagai bidang.
Majlis dimulakan dengan perarakan masuk Pegawai Pelajaran Daerah Kudat yang diwakili Penolongnya, Datuk Akdan Datu Basran, Guru Besar Sk St Peter, Puan Rose Shang On Yin, Pengerusi PIBG, Puan Norma Kudus, Pengerusi Majlis Guru Besar Daerah Kudat dan Guru-guru Penolong Kanan ke dalam dewan dengan diiringi bunga manggar.
Puan Rose berkata mengiktiraf kebolehan pelajar adalah satu tuntutan yang mulia dan dinantikan setiap penghujung semestar akhir setiap tahun.
"Pada waktu seperti inilah kita dapat dengan jelas menyatakan pentingnya potensi pelajar yang perlu dibangunkan sama ada di dalam pencapaian kurikulum, ko-kurikulum, sahsiah dan bakat mereka melalui penghargaan atau anugerah yang disampaikan.
"Perlu diingatkan bahawa usaha mereka hendaklah berterusan.Komitmen yang tiada akhirannya, terutama di kalangan ibu bapa sendiri, adalah amat penting yang mana ianya menjadi asas kepada kecemerlangan anak-anak," katanya.

Guru Besar SK St Peter itu berkata, adalah menjadi harapan agar Majlis Anugerah Kecemerlangan 2009 yang diraikan secara besar-besaran ini akan menjanjikan semua perkara yang baik dan terbaik kepada semua pihak khasnya kepada para pelajar untuk terus bersaing secara sihat di antara satu sama lain, seterusnya memberikan impak maksima kepada warga pendidik dalam memberikan seratus peratus dedikasi dalam bidang kerjaya masing-masing.
"Semoga menjadi inspirasi kepada setiap individu yang terlibat dan yang datang menyaksikan kejayaan-kejayaan kami," katanya sambil memberi penghargaan kepadan semua jemputan, dermawan, ibu bapa dan orang perseorangan yang sudi berkampung untuk memeriahkan majlis itu.
Yang Di Pertua PIBG, Puan Norma Kudus berkata matlamat untuk melahirkan generasi pewaris yang berdaya saing bukan saja memerlukan guru yang berkomited.
Oleh itu, beliau berharap agar ibu bapa dan masyarakat dapat memainkan peranan dan kerjasama yang jitu untuk memastikan SK St Peter sentiasa gah dan kekal sebagai sekolah yang melahirkan ramai pelajar Cemerlang 5A di daerah Kudat.
Sebenarnya penambahbaikan ini memang amat bermakna bukan saja kepada anak-anak didik yang bersekolah di sini, tapi juga telah jelas mencerminkan usaha warga pendidik yang tidak sekadar melakukan sesuatu kerana tanggungjawab semata.
"Saya amat pasti bahawa perancangan semua perancangan yang dibuat demi para pelajar, adalah juga disulami dengan kasih sayang mereka.Buktinya tidak hanya dapat dilihat pada majlis anugerah. Jika kita lihat sejarah keputusan peperiksaan UPSR sekolah ini yang menunjukkan peningkatan, dapat kita pastikan takat usaha warga pendidik khasnya kepada anak-anak kita.
Sementara itu, Datu Akdan Datu Basran yang mewakili Pegawai Pelajaran Daerah Kudat menasihatkan para pelajar supaya memastikan usaha mereka mencapai kejayaan cemerlang tidak bernoktabh.
"Tanggungjawab anda bertambah untuk memastikan kecemerlangan sentiasa menjadi indikasi diri untuk menjadi individu berminda kelas satu dan didoakan agar semuanya mampu meningkat selepas ini.
"Apa yang menjadi harapan adalah kelangsungan semua isi sekolah untuk menjayakan misi dan visi pendidikan.
Majlis seumpama itu adalah contoh kejayaan kita sebagai pendidik yang mesti dilengkapkan dengan kerjasama. Beliau meminta golongan pendidik supaya menjalankan tugas dalam suasana hormat menghormati, ceria, mesra tutur kata serta tidak melupakan etika-etika sebagai seorang pegawai profesional.
Untuk para ibu bapa, penglibatan anda dalam pendidikan anak-anak adalah amt di alu-alukan. "Sokongan dan keprihatinan anda pasti dapat merubah banyak perkara yang membawa kebaikan.
"Semoga sikap cemerlang anda sebagai ibu bapa akan menjadi contoh dan penggerak pada kemajuan anak-anak anda khususnya," katanya ketika merasmikan majlis yang gilang gemilang itu.
Sementara itu, Majlis Anugerah Kecemerlangan 2009 pastilah memberi kenangan manis kepada Adik Jedd Howell Bidin yang menerima anugerah Tokoh Pelajar dan Tokoh Kurikulum SK St Peter.
Jedd yang dilahirkan pada 12 Mei 1997 di Hospital Daerah Kudat merupakan anak kepada Bidin Kinzin dan Puan Rosmi Gata merupakan seorang pelajar yang cemerlang dan sentiasa mendominasi kedudukan nombor 1 setiap kali peperiksaan dari Tahun 1 hingga Tahun 6.
Kecemerlangan dalam akademik diserlahkan lagi dengan menerima hadiah pencapaian terbaik dalam beberapa mata pelajaran seperti bahasa Melayu, Bahasa Inggeris dan Sains. Dalam bidang kokurikulum pula, pelajar ini seorang yang sangat aktif dan banyak terlibat dalam pelbagai pertandingan.
Antara penglibatannya dalam kokurikulum ialah wakil Dojo Karate Kudat ke Kejohanan Karate bawah 12 tahun, tahun 2007 peringkat Negeri sabah, mewakili sekolah ke Pertandingan Hoki bawah 12 tahun pada tahun 2008, pertandingan catur sehinggalah ke peringkat bahagian pada tahun 2008 dan 2009, naib johan pertandingaan pidato Shell 2008 dan terlibat dalam English in Camp peringkat daerah Kudat.
Jedd yang mempunyai kepimpinan dan kewibawaan yang tinggi merupakan merupakan Ketua Pengawas Sekolah SK St Peter.
Bagi Anugerah Tokoh Kokurikulum 2009,Adik Dorothy George Mintu yang membuktikan keunggulannya apabila anak kelahiran 16 Mei ini terpilih mewakili Sabah dalam pertandingan bola jaring di peringkat kebangsaan pada tahun 2009.
Anak pasangan George Jackson dan Puan Julia Anak Robert Juan itu bercita-cita menjadi pramugari. Dorothy merupakan seorang yang sangat aktif dalam pelbagai aktiviti termasuklah bidang sukan. Antara aktiviti yang pernah disertainya ialah pertandingan menyanyi dan mendeklamasikan sajak, sukan olahraga dan sukan bola jaring dan sebagainya.
Dalam sukan olahraga, pelajar ini mewakili sekolah dalam acara balapan seperti 100 dan 200 meter sera acara lompat jauh manakalah pencapaian terbaiknya ialah mewakili zon dalam acara lompat jauh dalam MSSS peringkat daerah Kudat.

Pelajar ini menjadi penjaring terbanyak untuk tahun 2008 dan 2009 pertandingan bola jaring peringkat sekolah, membantu pasukan sekolah muncul juara dalam sukan bola jaring MSSS Daerah Kudat 2008 dan dipilih pemain terbaik dan seterusnya mewakili daerah Kudat dan Gabungan Kota Marudu ke Kejohanan MSSS Bola Jaring Peringkat Negeri Sabah.
Dorothy diberi kepercayaan untuk memegang jawatan Ketua Pasukan Bola jaring sekolah, daerah Kudat dan Bahagian Zon Utara kategori bawah 12 tahun.
Pada tahun ini, Pelajar ini juga menjadi pemain terbaik MSSS bola jaring Bahagian Zon Utara seterusnya membantu Kudat muncul johan dalam kejohanan itu, membatu Zon Utara muncul tempat ketiga dalam MSSS Bola Jaring Peringkat Negeri sabah dan terpilih mewakili negeri sabah ke Kejohanan MSSM Bola Jaring Peringkat Kebangsaan di Melaka.

Anugerah juga disampaikan kepada pelajar Cemerlang UPSR 2008 iaitu Anisthesiahyuni Durman, Nur Faezah Singgan, Precy Win dan Emrine Amre Misong. Sijil Penghargaan Khidmat Bakti, Sijil Penghargaan Kehadiran Penuh dan Anugerah Pencapaian Mata Pelajaran Terbaik turut disampaikan dalam majlis bersejarah yang diselangselikan dengan persembahan koir murid-murid tahun 6, Persembahan Bacaan Bijak Sifir, Persembahan kalam Jama'i, Wahidun Malezia, Persembahan Bercerita Bahasa Inggeris dan sebagainya.
Setiap kali pelajar SK St Peter Kudat naik ke pentas menerima sijil dan anugerah, kelihatan Guru Besar Puan Rose Shang On Yin tersenyum tanda bahagia melihat kejayaan anak-anak muridnya. Kejayaan yang dikongsi bersama oleh semua guru, pihak sekolah, ibu bapa dan pelajar itu sendiri untuk melakar kejayaan pada masa depan.

Monday, November 9, 2009

Satu senja dalam perjalanan ke Kudat

Jam menunjukkan 6.02 minit petang ketika saya melompat masuk ke Kereta Toyota Innova yang dipandu Manan. Kami harus sampai ke Kudat jam 8.30 malam kerana yusri? sedang ditunggu bosnya untuk memandu lori ikan untuk dihantar di KK.
Kereta meluncur laju walaupun jalan pada mulanya trafik jam dan ramai pula yang marah kerana manan memasang lampu tinggi kerana rosak.Syukurlah, lampu kereta itu baik secara tiba-tiba selepas kami dimakimaki oleh seorang pemandu yang marah.Akhirnya lampu kereta berfungsi seperti biasa.
Sepanjang perjalanan kami tidaklah terasa jauh jaraknya perjalanan dari Kota Kinabalu ke Kudat kerana banyak topik yang menjadi tajuk perbualan kami.
Tidak terasa jauhnya.
Jam 8.33 minit malam kami sudah sampai di jambatan berdekatan pengkalan feri. Selepas mengambil Jair, kami ke Restoran Rakyat.Saudara Matrudin sudah menunggu disitu.Kami lama tidak berjumpa.Paling akhir di Pulau Banggi ketika JASA, ketika itu dipimpin Jamal Sulai mengadakan program di pulau itu.
Saudara Matrudin, yang kini bertugas di Kementerian Belia dan Sukan, kalau tak silap saya, merupakan seorang yang baik.Hampir sebelas tahun bertugas di pejabat Daerah Kecil Banggi sebelum ditukarkan ke Kudat. Tidak lama kemudian abang saya, Japdin tiba dan rupanya mereka kawan lama. Saya tak menyangka, mungkin Matrudin juga.

Perbualan kami berkisar mengenai program-program belia yang harus dihighlight supaya generasi muda akan kesedaran cintakan negara. Mengenai kepimpinan Datuk Seri Najib dan konsep 1 Malaysia, mengenai kepimpinan yang perlu berubah sikapnya,mengeania wacana wacana Dr Asri, mengenai permintaan bonus yang ditolak Perdana Menteri dan menyifatkan permintaan itu seabagai tidak bermoral, walaupun saya berpendapat PM dapat memilih ungkapan bahasa yang lebih halus dan sopan supaya kakitangan awam tidak kecil hatinya. Pernyataan Datuk Najib memang betul tetapi seperti kata orang Iranun kurang `irmas'nya yakni kurang budi bahasanya.Kami berbual panjang mengenai cabaran-cabaran yang dihadapi bagi memastikan negara tidak berada dalam keadaan `gagut' atau kacau bilau.
Jika negara `gagut' kerana dipenuhi penjaja penjaja kebencian sudah tentu kestabilan dan kesejahteraan negara akan tergugat.

2. Saya berada di Kudat sebenarnya lebih kepada memenuhi jemputan kakak ipar saya, mama awin yang menjemput saya untuk membuat liputan program SK St Peter yang diadakan di Dewan Tun Mustapha.Meskipun agak sibuk di kk, saya memastikan dapat memenuhi jemputan itu apatahlagi mereka bedrharap sangat saya datang.

3. Brother Razak menghubungi saya untuk menanyakan harga iklan tahniah di surat khabar. Satu perempat muka iklan di utusan borneo ialah kira-kira 567. kalau separuh muka 1134 manakala satu muka 2268.

4. Khabarnya saudara Almudin Kaida menang jawatan Timbalan Presiden Parti Bersatu Sabah (PBS) setelah mengetepikan penyandangnya Datuk Pengiran AK Aliudin dengan kelebihan hanya 10 undi. Kemenangan Almudin itu dengan sendirinya mencatat sejarah bagi dirinya apabila terpilih sebagai Timbalan Presiden sekalipun tewas jawatan ketua pemuda dalam pemilihan yang lalu. Kemampuannya memenangi jawatan Timbalan Presiden PBS kouta Muslim itu menyempurnakan misinya yang dianggap do or die kerana jika kalah kerjaya politiknya akan berakhir. Akhirnya beliau berjaya memenangi jawatan dalam satu pertandingan yang dianggap sengit itu.

5.Hujan masih turun dengan lebat sejak tengah malam tadi. Saya berada di Kudat.Entah kenapa tiba-tiba saya seolah-olah terdengar gesekan biola Tun. Saya ingin mencatat sesuatu, seperti puisi untuknya, kerana perjuangannya dan jasa baktinya.

6. Tapi hari sudah jauh malam. Saya larut dalam kesenyapan. kesenyapan yang bergema dalam hati.

Jam 1.43 pagi
SMK Abdul Rahim Kudat

Petikan cerita Tun mengenai sejarah Islam di Semporna

Beberapa nama sempat saya catatkan ketika Yang Berbahagia Tun Datuk Seri Panglima Haji Sakaran Dandai mengkisahkan serba ringkas mengenai perkembangan agama Islam di Pantai Timur. Mengenai guru-guru agama yang pernah menumpahkan baktinya di Semporna. Beliau menyebut nama Ustaz Baharudin Jalil, dari Indonesia.Mengenai peranan ulama-ulama dari Hadramaut yang sanggup belayar dar Yaman untuk mengembangkan agama islam di rantau ini.Contohnya Sheikh Abdul rahman, Sheikh Hasbollah, Sheikh Abdillah manakala adiknya Sheikh Junaidi berdakwah di Selatan Filipina. Mengenai Haji Abd. wahab Al Kindawi, mengenai peranan yang dimainkan Tuan Guru Haji Muda dan sebagainya.
Agak menarik juga ceritanya mengenai Imam Tadang, seorang pemuka agama, orang Iranun dari Tungku.
"saya masih kecil ketika itu," katanya ketika arwah ayah dan ibunya mengundang Imam Tadang untuk mengajar mengaji di Semporna.
Beliau mengajar ilmu ihsan. saya fikir, para pengkaji dan penyelidik perlu menulis lebih banyak lagi mengenai sejarah perkembangan Islam di Pantai Timur Sabah.

Saturday, November 7, 2009

Pertemuan dengan anak Mandur Sarip








Sewaktu berusia lapan bulan, Ibu Nurmahwati bte Muhd Sarip dibawa oleh Mandur Sharip balik ke tanah Jawa. Sejak itu, ibu Nurmahwati hampir tidak pernah ke tanah kelahirannya. "Pernah juga bapak tua mahu ke Sabah, tapi tak kesampaian, kata anaknya.
Mandur Sarip merupakan salah seorang pengembang Islam di Sabah. Sebagai Mandur di Estet Labou, Mandur Sharif berdakwah hingga ke kampung-kampung menggunakan ilmu kebatinan yang banyak dikuasainya.
Banyak cerita mengenainya. kadang-kadang beliau berdakwah di kampung-kampung atau di tamu-tamu hingga ke acara sabung ayam. Disanalah beliau menerapkan usaha dakwahnya. Beliau berjaya menyampaikan pesan keislaman ke daerah-daerah pergunungan seperti Kundasang, Telipok dan Ranau.
Khabarnya Mandur Sarip pulang ke Jawa apabila beliau tidak setuju cadangan kerajaan memindahkan Masjid Kota Kinabalu ke Sembulan.
Ibu Nurmahwati yang kini menetap di SukaLuyu Bandung datang menziarahi keluarganya yang masih ada di Sabah. Selepas di bawa ke Indonesia, hubungan mereka terputus.
"Kami 57 tahun baru berjumpa," kata abang kandungnya Ewun Manan.
Kehadiran mereka ke Nadwah Pewaris Nabi, dimaklumkan kepada saya oleh Drs Abd Aziz Muji yang pernah membuat artikel menarik mengenai kisah Mandur Sarip.
Yang Di Pertua USIA, Tun Datuk Seri Panglima Dr.Haji Sakaran Dandai juga gembira dengan kehadiran Ibu Nurmahwati. Banyak kisah yang diceritakan mengenai kaedah berdakwah dahulu.
"Kalau ke Bandung, singgahlah ke Suka Luyu", kata Ibu Nurmahwati.
Rumah saya di Jalan Sido Mufti.
Saya berhasrat untuk menulis mengenai sumbangan dan peranan yang dimainkan Mandur Sarip dalam dakwah Islamiah di Sabah.
Insya Allah, saya akan ke sana.

Sekitar Nadwah Pewaris Nabi

Sungguh mulia hati orang-orang yang mengilhamkan program Nadwah Pewaris Nabi yang diadakan di Dewan Serbaguna USIA pada 7 November lepas. Program anjuran Persatuan Ulama Malaysia (PUM) Sabah dengan kerjasama erat JAKIM, JHEAINS,dan USIA.
Saya terharu melihat ustaz-ustaz , ustazah-ustazah yang telah lama berkhidmat, ada yang sejak tahun 60-an lagi, yang sudah puluhan tahun berkiprah dalam dunia dakwah menghadirkan diri dalam majlis itu.
Saya terharu berjumpa Ustaz Aziz Rejab, ustaz saya dulu di sekolah rendah SK Tamau. Juga Ustaz Mutalib, ustaz saya waktu menuntut di SUI An Nuar Taun Gusi.
Betapa kagumnya saya melihat mereka.Wajah-wajah jernih dan ikhlas itu. ....














Friday, November 6, 2009

dapai uran urai bulawan

Walaupun hujan emas di negeri orang, sesungguhnya kita tetap merindukan gerimis di negeri sendiri.

dapai uran urai bulawan,
sa tanayun a inged,
mataan, na ikaranun ta ban su tarintik sa ganatan.

Meskipun hujan emas di perantauan, hujan rintik di kampung halaman tetap kita rindukan.

Peribahasa Iranun yang semakin lama semakin dilupakan orang itu tetap membawa makna yang mendalam. Saudara Mabulmaddin Hj Shaiddin yang kini sedang mendalami seni budaya Iranun mengutip peribahasa ini daripada OKK Haji Masrin Hassin, seorang tokoh budaya Iranun, yang `dalomangkob' atau paling terkemuka dalam membicarakan budaya dan bahasa Iranun.

Sukubangsa Iranun yang satu ketika dahulu paling dominan di rantau ini khususnya dalam abad ke 17 dan 18 hingga awal abad ke-19, kini semakin marginal kedudukannya di negeri ini. Jumlahnya cuma sekitar 25,000 orang dan mendiami 22 kampung di kota belud, satu kampung di Kudat iaitu Kampung Indarason Laut (Kampung Marimbau dan Kaniong telah ditinggalkan suku Iranun), tiga buah kampung di Tungku lahad Datu iaitu Kampung Barigas, Bakolod dan Kampung Nala. Terdapat juga penutur bahasa Iranun yang ramai di Likas, Inanam, kota Marudu, Umas-Umas di Tawau dan lain-lain lagi.

Sememangnya diakui bahawa suku bangsa Iranun memiliki khazanah budaya yang kaya. Bagaimanapun bahasa Iranun kini dengan kemungkinan yang perit jika bangsa minoriti itu kehilangan bahasa ibundanya dalam tempoh tiga hingga lima puluh tahun lagi. Atau lebih awal dari itu sekiranya tiada usaha yang dilakukan untuk memelihara dan memulihara bahasa ibunda.

Masyarakat Iranun, barangkali masih memiliki banyak khazanah. Antaranya alat-alat kebesaran, cap mohor, kasut emas, pakaian, dan berbagai artifak lagi yang masih disimpan oleh keluarga Iranun. Saya fikir sudah sampai masanya bagi kita mewujudkan muzium Iranun atau galeri untuk menyimpan khazanah-khazanah berharga itu. Ada baiknya juga jika cara hidup masyarakat Iranun dapat dirakamkan, sewaktu menyambut kelahiran, adat perkahwinan, cara bertani, cara hidup nelayan dan bermacam-macam lagi cara hidup termasuk alat-alatnya yang dihimpunkan dalam muzium atau galeri atau rumah budaya itu nanti.

Seperti kata orang-orang tua Iranun, i yuna su taras, i apa' sa kauladan. Perumpamaan yang padanannya dalam bahasa Melayu berjagung-jagung dahulu sementara menunggu padi masak.

Saya fikir kita perlu membangunkan semula jatidiri bangsa, su tindeg dan `maratabat' kita sebagai bangsa.

u pun ya sumagad,
su ika ina i kada'
ai ka geled bangsa
ai ka lanyap a nyawa
na mananguntaman ako
dapai o malab ako
da aku run kadawaian
mid saripag a garing
.

Puisi yang bermakna, biarpun kita kehilangan nyawa tetapi untuk memastikan bangsa tidak tenggelam, kita sanggup berjuang kerananya.

Saya tertarik dengan perkataan dalomangkob. Dalomangkob dalam bahasa Iranun boleh diertikan sebagai lebih gagah, lebih pintar, lebih perkasa, lebih dominan dan sebagainya berbanding dengan yang lain.

ainungka ib paar
bainungka di' dsabut
saken man ih dalomangkob
sa langun a redsa aken.

Mengapa kau persoalkan,
kenapa tak ingin mengerti,
akulah yang terbaik,
di antara rakan sebaya.

Penegasan bahawa `saken man i dalomangkob', atau `akulah yang terbaik' itu, jangan-jangan itulah yang membuat bangsa kita agak ketinggalan.

Wednesday, November 4, 2009

Catatan singkat mengenai Almudin Kaida

Setakat ini saya belum sempat menemubual Saudara Almudin Kaida.
Beliau merupakan salah seorang tokoh yang saya hormati. Saya mengenali beliau ketika beliau masih berkhidmat di Jabatan Audit Negara. Kemudian setelah beberapa lama berjuang dalam politik, Almudin yang memilih Parti Bersatu Sabah (PBS) sebagai wadah perjuangannya tetap setia dengan perjuangannya. Beliau tetap dalam PBS walaupun PBS satu ketika berada dalam kelompok pembangkang.
Dari sana, Almudin bertanding dan menang jawatan Ketua Pemuda PBS selama beberapa tahun dan berjaya mempertahankan jawatannya dalam beberapa pertandingan sehinggalah beberapa tahun lepas, beliau kecundang dalam persaingan dengan Datuk Jahid Jahim.
Namun begitu, Almudin terus berjuang dalam parti itu dan meskipun tidak memegang jawatan penting dalam parti komponen BN itu, Almudin yang juga Ketua Bahagian PBS Tempasuk terus setia pada prinsip perjuangannya.
Minggu ini, beliau mengesahkan hasratnya untuk bertanding jawatan Timbalan Presiden PBS (kouta bumiputera Islam) yang kini disandang Pengiran AK Aliuddin, seorang tokoh veteran dalam politik.
Almudin, yang merupakan lulusan Universiti Malaysia Sabah (UMS), adalah anak kelahiran Nanamun Kota Belud.
Sepanjang yang saya ingat, Almudin merupakan seorang tokoh yang tidak pernah memperlekeh orang lain atau merendah-rendahkan pemimpin lain di hadapan umum. Inilah antara sebab mengapa beliau begitu disenangi di kalangan masyarakat.
Selain itu, Almudin merupakan seorang pemimpin Pemuda yang terserlah kepimpinannya dalam Pergerakan Pemuda PBS.
Saya fikir, sebagai seorang pemimpin sederhana, Almudin juga merupakan pemimpin berwawasan, dan punya visi untuk memajukan masyarakat kita. Saya kira jika beliau diberi peluang untuk menyandang jawatan Timbalan Presiden PBS itu, beliau akan mampu memberi sumbangan yang bermakna kepada PBS, sebagai sebuah parti berbilang kaum di negeri ini.

Samira Gutoc, wartawan Maranao di Mindanao


Wanita cantik ini bernama Samira Gutoc. Di sebaliknya senyumannya yang menawan itu, Samira merupakan seorang yang luar biasa.
Barangkali beliau merupakan wanita Maranao yang paling terkenal dalam bidang kewartawanan di rantau ini.
Pemegang sarjana undang-undang dari University of Philippines, sebuah universiti paling terkemuka di Filipina juga merupakan seorang pejuang hak asasi manusia yang cekal.
Saya sering membaca Moro Notes yang ditulisnya, dan disiarkan dalam www.maranao.com.
Mantan Presiden Persatuan Pelajar Islam di University of Philippines ini, wanita Maranao yang pertama memegang jawatan berprestij itu, dalam persatuan yang pernah diterajui oleh pejuang Moro Prof Nur Misuari, sesungguhnya seorang yang menguasai pelbagai bidang, dari isu-isu hak asasi, isu-isu sosial, ekonomi hinggalah ke isu-isu berkaitan kebudayaan Moro.
Samira dilahirkan dan dibesarkan di Arab Saudi hingga beliau berusia 15 tahun.Ayahnya merupakan diplomat dari bangsa Maranao yang berkhidmat di kedutaan Filipina di negara itu.
Tidak hairanlah kalau beliau dekat dengan golongan ulama di Mindanao.
Bagaimanapun, peminat lagu-lagu Rihanna dan J Lo ini merupakan seorang aktivis sosial yang memperjuangkan hak-hak golongan minoriti khususnya Islam Moro.
"Tanpa hak minoriti, tiada hak asasi," katanya dalam satu wawancara yang diterbitkan dalam majalah baru-baru ini. Sebagai pejuang hak asasi khususnya wanita Islam di Mindanao, beliau tampil di pelbagai forum antarabangsa seperti di Canada, India, Taiwan dan sebagainya.
Samira juga merupakan tokoh utama dalam Young Moro Profesional Network (YMPN) yang menghimpunkan golongan profesional dan intelektual Moro untuk memperjuangkan nasib dan masa depan bangsa Moro dalam pelbagai bidang di Filipina.
Beliau kini merupakan salah seorang Pengarah Al-Amanah Islamic Investment Bank of Philippines.
Saya fikir, Kecekalan dan perjuangan Samira, kebolehannya menulis dan mengetengahkan isu-isu berhubung hak-hak masyarakat Islam di Mindanao telah memberikan informasi dan maklumat kepada khalayak yang lebih luas sehingga mereka mengetahui dengan lebih jelas masalah dan perjuangan bangsamoro di Mindanao.