Monday, October 28, 2013

CATATAN PERJALANAN KE DKM MAKASSAR, INDONESIA

CATATAN PERJALANAN KE DKM MAKASSAR, INDONESIA

Oleh ABD.NADDIN HJ.SHAIDDIN
abdnaddin@yahoo.com



SELEPAS pertemuan dengan Wali Kota Makassar, Bapak Ilham Arief Sirajuddin di Gedung Graha Pena, kami bergegas ke Benteng Rotterdam. Pimpinan Dewan Kesenian Makassar (DKM) sedang menunggu ketibaan kami tetapi kami datang agak terlambat sehingga pertemuan ditunda selepas waktu Maghrib.

Hasrat untuk menyaksikan matahari terbenam di Pantai Losari juga tidak tertunai pada hari itu kerana ketika kami tiba hari sudah menjelang malam.

Orang-orang sudah berpulangan. Aktivis teater yang sedang berlatih untu menjayakan Teater Jenderal Terakhir juga sudah menamatkan latihan pada hari itu. Namun rupanya bangunan Dewan Kesenian Makassar masih terbuka dan beberapa orang kelihatan sedang menunggu kami, para musafir, budayawan dan penulis yang datang dari Kota Belud Sabah.

Selepas Maghrib, bapak Fahmi Syarief, Ketua DKM sempat beramah mesra dengan rombongan budayawan dan penulis yang dketuai Nandra Hitong. Pelbagai topik dibincangkan pada kunjungan singkat itu, mulai dari soal teater, seni, sejarah dan budaya untuk merapatkan lagi hubungan silaturrahim antara seniman dan budayawan Kota Belud dan Makassar.

Paling menarik ialah topik mengenai hubungan sejarah lampau yang melatari persaudaraan dan perhubungan antara wilayah di kepulauan Nusantara yang luas. Cerita mengenai penentangan golongan peribumi terhadap penjajahan serta bagaimana watak kolonialisme mengkotak-kotakkan wilayah nusantara pada abad yang lalu.

Kunjungan pada malam itu sangatlah bermakna. Ia dapat merapatkan dan mendekatkan hubungan seniman dan budayawan yang selama ini terpisah kerana batasan geografi.

Keesokan hari, rombongan budayawan dan penulis Kota Belud sempat berkunjung ke Makam Syeikh Yusuf Al Makassari, seorang ulama yang paling berpengaruh dalam menentang penjajahan, bukan saja di Indonesia malah di Afrika Selatan. Rombongan juga sempat menziarahi Makam Sultan Hasanuddin, seorang tokoh sejarah yang paling terkenal dalam penentangan terhadap Belanda. Selain itu, rombongan juga sempat berkunjung ke Muzium La Galigo. Rombongan juga sempat melihat tempat Pangeran Diponegoro ketika ia dipenjarakan selepas dibuang dari Yogyakarta selepas Perang Jawa 1825-1830.

Kunjungan silaturrahim ke DKM itu adalah pembuka jalan kepada hubungan dan komunikasi yang lebih erat antara seniman dan budayawan Sabah dan Makassar pada masa depan.


No comments: