Friday, June 19, 2015

GUSTI DIPO, PUTERA RAJA YANG BAIK HATI


GUSTI DIPO, PUTERA RAJA YANG BAIK HATI

JAUH sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Ogos 1945, pusat kekuasaan, pentadbiran,kebudayaan,keagamaan dipegang oleh kerajaan-kerajaan tradisional. Salah satu kerajaan tradisional yang terkenal ialah Keraton Surakarta Hadiningrat yang berasal dari Kerajaan Mataram Islam. Keraton Surakarta adalah kerajaan tertua di antara empat kerajaan yang menjadi penerus dinasti Mataram. Keraton Surakata Hadiningrat diasaskan oleh Susuhunan Pakubowono II pada tahun 1745. Walaupun kini peranannya tidak seperti dulu tetapi Keraton Surakarta Hadiningrat masih memegang kedudukan yang penting dalam masyarakat di Solo.

"Keraton secara filosofis dalam pengertian Jawa itu bisa memelihara dan menjaga kebaikan masyarakat, bisa ngayomi dan ngayemi ,"" kata Gusti Pangeran Hario Dipokusumo atau lebih dikenali sebagai Gusti Dipo, adik kepada Raja Kasunanan Surakarta , SISK Paku Bowono X11 Hangabehi yang menjadi raja Solo sekarang.

Gusti Dipo atau Drs. KGPH. Dipokusumo dilahirkan pada 22 Mei 1956 di Surakarta. Beliau mendapat pendidikan awal di SD Kasatriyan, Surakarta bermula tahun 1969, SMP Negeri 2, Surakarta bermula 1972, SMA Negeri 1, Surakarta sejak 1975 dan kemudian memasuki Fakulti Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada pada tahun 1992 sehingga mendapat sarjana S1 Hubungan Internasional.


Selain menjadi Disen S1 Hubungan International FISIP UNISRI, beliau juga adalah Public Speaker for Culture , Heritage, Tourism and Spiritual Life, Magister Adminitrasi Publik, Universitas Slamet Riyadi Surakarta 2013.

Beliau menghadiri pelbagai kursus antaranya Summer Peace Building di Esatern Mennonite University Harrisonburg Virginia USA 2006, Program ESQ Ari Ginanjar Jakarta, Financial Revolution oleh Tun Desem Waringin Jakarta dan Kursus Pelestarian Observasi Persurvasi Bangunan di Singapura 1995., Leadership Management International (LMI) San Deigo USA 2012.
Putera SSIKS Pakubowono X11 dengan KRAy. Retnodiningrum ini mendirikan rumah tangga dengan RAy. Febri Haryu Apsari dan dikurniakan empat cahayamata iaitu BRM. Suryo Adhityo Nuswantoro BRAj. Kusuma Maharani,BRAj. Gayatri Kusumawardhani dan BRAj. Kusuma Putri Saraswati.

Selain dikenali sebagai BudayawanSolo, Gusti Dipo juga adalah Wakil Ketua KADIN kota Surakarta,Bendahara Yayasan Pendidikan Kasatriyan,Pengurus Yayasan Pendidikan Murni,Pengurus Palang Merah Indonesia cabang Surakarta,Dzikir Tahlil , Islamic Foundation Surakarta,Forum Lintas Agama dan Golongan (FPLAG), Surakarta,Forum Lintas Lembaga Adat dan Tradisi Budaya Indonesia,Badan Pertimbangan Pariwisata Jawa Tengah,Perhimpunan Pedalangan Indonesia ( PEPADI ),Penasehat, Komite Bahasa Jawa,Komite Sekolah SMAN 1 Surakarta

Penasihat KAGAMA ( Alumni UGM ) , Surakarta,Pengurus Yayasan pendidikan Kasatriyan,Pengurus Yayasan perguruan Murni,Penasihat Yayasan Museum Radyapustaka Surakarta dan Kurator Museum Keris Surakarta.

Beliau juga mendapat gelaran Bintang Sri Kabadyo dari SSISKS Pakubuwono XII , Karaton Surakarta Hadiningrat , 2002,Gelar Kehormatan dari Kerajaan Negeri Sembilan Malaysia , 2001 dan Lifting up The World with the Oneness Heart from Sri Chinmoy Institute , New York USA 2006

Gusti Dipo juga berpengalaman luas menjadi Delegasi dari Karaton Surakarta Hadiningrat untuk kegiatan budaya dibeberapa tempat seperti Misi kesenian di Belanda tahun 1985,Misi kesenian dan budaya di Jepun 1998,Misi budaya bersama Gubernur Jawa Tengah di Thailand 2003,ASEAN Art of Festival di Malaysia , 2003 Festival Karaton Nusantara II 1996 & V 2004 di Jogyakarta,Festival Karaton Nusantara III di Cirebon , 1998, Festival Karaton Nusantara IV di Kutai Kertanegara Kalimantan Timur , 2002, Sri Chinmoy Institute ( Spiritual Program ) di Pulau Pinang Malaysia , 2005.

Selain itu, beliau juga menjadi pembicara di pelbagai seminar, forum berkaitan dengan budaya, pariwisata, spiritual, Politik dan Hubungan Internasional.

Gusti Dipo juga pernah menjadi Anggota DPRD kota Surakarta dari fraksi GOLKAR tahun 1997 ,Dan pengurus Partai Golkar tahun 1997,Calon Wakil Walikota Surakarta pada PILKADA tahun 2005 , Ahli Cagar Budaya Surakarta

Tim Ahli Bangunan Gedung Surakarta.


Wartawan UTUSAN BORNEO, ABD.NADDIN HJ SHAIDDIN berpeluang menemuramah beliau sambil menikmati makanan Nasi Liwet di Rumah Makan Bu Wongso Lemu kemudian dilanjutkan di rumahnya di Loji Ndalem Sasana Mulya di Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Turut bersama dalam sesi temubual itu ialah Minister Counselor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Bapak Andhika Bambang Supeno. Ikuti petikan temuramah dengan Gusti Dipo mengenai Keraton Kasunanan Surakarta dan peranan keraton dalam masyarakat Jawa dan banyak lagi hal berkaitan budaya tradisi yang dilakukan secara informal dan kemudian disusun mengikut format wawancara.

UTUSAN BORNEO: Masyarakat umum di Malaysia mungkin kurang tahu mengenai keraton Surakarta walaupun keraton ini mempunyai kedudukan dan peranan penting dari sudut sejarah. Boleh jelaskan sedikit mengenai peranan keraton Surakarta dalam pengembangan budaya?

GUSTI DIPO: Peranan Keraton Surakarta sebagai penerus kerajaan Mataram dalam pengembangan budaya di Indonesia sangatlah besar. Sebagaimana yang kita tahu, Keraton Surakarta adalah salah satu dari empat penerus kerajaan dinasti Mataram selain Kasultanan Yogyakarta, Pakualaman Yogyakrta dan Pura Mangkunegaran Surakarta, Kekuatannya berpusat dari tiga kekuatan iaitu keraton, masjid dan pasar dimana ia saling berintegras satu sama lain sehingga menjadi tiang utama kejayaan sesebuah negara.

Keraton Kasunanan Surakarta juga memiliki peranan penting dalam kemerdekaan Indonesia mulai dari waktu sebelum proklamasi hingga setelah Indonesia merdeka.Banyak aset dan bangunan keraton yang digunakan sebagai markas pejuang kemerdekaan.

UB: Mungkin Gusti boleh beritahu serba sedikit mengenai Keraton Surakarta?

GUSTI DIPO: Keraton Surakarta Hadiningrat didirikan Susuhunan pakubowon II kira-kira tahun 1744 sebagai pengganti Istana Keraton Kartasura yang porak pranda akibat Geger Pecinan pada tahun 1743. Kompleks bangunan keraton ini masih menjalankan tradisi kerajaan hingga sekarang. Ia juga menjadi salah satu destinasi pelancongan di Kota Solo. Sebahagian kompleks keraton dijadikan muzium yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan seperti berbagai hadiah dan pemberian dari raja-raja Eropah, replika pusaka keraton, gamelan dan sebagainya. Keraton Surakarta Hadiningrat ini juga adalah contoh bangunan yang mempunyai arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini adalah satu tempat wisata cagar budaya kerana ia memiliki pelbagai kelengkapan peninggalan benda sejarah.


UB: Selain Keraton, apa yang menarik di Solo?

GUSTI DIPO: Solo tidak hanya memiliki Keraton yang menjadi ikon wisata sejarah, tetapi juga menyajikan pelbagai jenis kuliner sepert nasi liwet, salah satu makanan khas di Surakarta atau juga dikenali sebagai Solo. Selain itu, banyak tempat wisata menarik yang boleh dikunjungi di Solo.

UB: Menurut pendapat Gusti, sekarang ini di seluruh Indonesia terdapat usaha untuk menghidupkan semula kerajaan tradisional sebagai usaha untuk menghidupkan sejarah? Apa pandangan Gusti?

GUSTI DIPO: Institusi keraton adalah bahagian daripada identiti banngsa. Terdapat sebanyak 112 kerajaan di seluruh Indonesia pada masa dulu, yang masing-masing mempunyai adat resam danbudaya masing-masing. Di Zaman Belanda, kerajaan-kerajaan ini mempunyai otoritas atau kekuasaan yang khusus. Walaupun kemudian banyak yang digilas revolusi seperti yang berlaku di Sumatera kerana dianggap bekerjasama dengan Belanda, keadaan ini tidak berlaku di Jawa. Rakyat pribumi di Jawa masih memandang tinggi mengenai keraton.

UB: Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan untuk menghidupkan institusi keraton?

GUSTI DIPO: Banyak usaha dilakukan untuk menghidupkan institusi keraton

sebagai cagar budaya. Usaha ini sudah tentu memerlukan sokongan pemerintah. Keraton perlu dikembalikan sebagai sebahagian daripada identiti bangsa. Kebudayaan nasional adalah berasal dari puncak-puncak budaya daerah. Intinya, konsep dasar kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak budaya daerah. Jadi budaya daerah-daerah di Indonesia perlu dipertahankan termasuk keraton sebagai sebahagian identiti dan jati diri bangsa.

UB: Menurut Gusti, bagaimana dukungan pemerintah terhadap perkara ini?

GUSTI DIPO: Dukungan pemerintah terhadap usaha-usaha menghidupkan institusi keraton amatlah baik, kerana pemerintah melihat ia sebagai bahagian dari kekayaan budaya nasional. Oleh kerana itu, timbul kesedaran untuk memelihara budaya lokal sebagai warisan dunia. Saya fikir, kita jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Kita jangan sampai lupa sejarah. Sebelum adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) , sudah ada raja-raja. Kita harap semua kearifan lokal di seluruh Indonesia perlu di bantu dipulihara dan dipelihara.
.
UB: Apa pandangan Gusti mengenai masyarakat jawa terhadap kebudayaan Jawa hari ini?

GUSTI DIPO: Budaya Jawa masih diamalkan di kalangan masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa pada dasarnya adalah Homo Simbois , yang suka menjelaskan sesuatu melalui penggambaran dalam bentuk simbo-simbol. Pertemuan antara nilai spiritual dan simbol atau perlambangan ini membentuk budaya Jawa yang menjadi budaya yang sangat luhur serta mempunyai makna falsafah yang sangat tinggi. Kita harus memahami dan menggali makna-maknanya walaupun tentu ia tidak mudah. kerana ia memerlukan latihan olah rasa dan kedewasaan untuk mengungkapkan rahsia yang terdapat perlambangan budaya Jawa.

Saya sendiri lahir dari lingkungan yang menitikberatkan mengenai nilai budaya Jawa. Kami juga masih mengamalkan budaya Jawa hingga sekarang

UB: Pengertian keraton dalam falsafah Jawa, boleh Gusti jelaskan?

GUSTI DIPO: Erti keraton menurut falsafah Jawa itu mesti mampu memelihara dan menjaga kebaikan masyarakat, dalam bahasa Jawanya mesti bisa ngayomi dan ngayemi

,

UB: Apa falsafah hidup Gusti?
GUSTI DIPO: Pengabdian berarti sebuah kontribusi untuk berbagi dan memberi tanpa pamrih

No comments: