Tuesday, August 18, 2015

KENANGAN YANG TIDAK DAPAT DILUPAKAN DI KOTA SOLO

KENANGAN YANG TIDAK DAPAT DILUPAKAN DI KOTA SOLO

Oleh ABD.NADDIN HJ SHAIDDIN

PENERBANGAN yang mengambil masa kira-kira satu jam 50 minit dari Jakarta ke Solo itu saya habiskan dengan menonton semula filem Habibie-Ainun. Alangkah hebatnya cinta mantan Presiden Indonesia itu terhadap isterinya. Walaupun saya pernah menonton filem itu, dan membaca bukunya, tetapi Habibie tetaplah tokoh yang menginspirasi.

Tidak terasa pesawat GA 228 Garuda Indonesia mendarat di Bandara Internasional Adi Sumarmo Surakarta. Surakarta adalah nama lain bagi Solo, kota berpenduduk lebih 520,000 orang. Ketika menjadi Wali Kota Solo, Jokowi terpilih sebagai Wali Kota atau Datuk Bandar terbaik ketiga dalam pemilihan World Mayor Project 2012.

Perjalanan ke Solo, meskipun kali pertama bagi saya, menjadi mudah kerana saya bersama Pak Andhika Bambang Soepeno, Minister Counselor dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yang kebetulan mempunyai program di Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Solo dan Universitas Sebelas Maret. Diplomat yang sangat berpengalaman ini pernah bertugas atau berkunjung ke 53 buah negara sepanjang 33 tahun kariernya dalam bidang diplomatik.

Sebaik keluar di balai ketibaan, Ibu Christy , dosen UNISRI sudah menanti kedatangan kami. Pertanyaan pertama yang ditanyakan sebaik bertanya khabar ialah bagaimana keadaan gempa bumi berkekuatan 6.0 SR yang melanda Sabah sehari sebelum kami berangkat dari Kota Kinabalu. Gempa bumi sekuat itu tidak pernah berlaku di Sabah yang berada di luar lingkaran api pasifik. Bagaimanapun kejadian itu memakan korban- kemudian disahkan seramai 18 orang termasuk tiga malim gunung.

Kemudian mobil yang kami naiki itu meluncur ke Hotel Solo Tiara, tempat kami menginap. Dalam perjalanan cerita banyak berkisar mengenai demam batu akik, yang kini melanda Indonesia. Tetapi tajuk berita penting di Solo pada ketika itu ialah proses perkahwinan Gibran Rakabuming anak sulung Presiden Jokowi dan Selvi Ananda yang dijalankan mengikut adat Jawa. Jokowi terpaksa `ngantor' selama empat hari di Solo 9-12 jun dan menjalankan tugas kepresidenan dari kota kelahirannya di Jawa Tengah itu.

Selepas berehat sebentar, kira-kira jam 8.30 malam, Gusti Dipo datang mengambil kami untuk berkeliling kota sebelum akhirnya singgah di Nasi Liwet Bu Wongso Lemu.Restoran itu didirikan kira-kira tahun 1950 dan pernah dikunjungi mantan Presiden Suharto. Selain itu, restoran itu juga pernah dikunjungi Guruh Sukarno Putra, Gabenor Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, artis dan selebriti terkenal dari seluruh Indonesia.

Sebenarnya selain nasi liwet yang jadi kebanggaan Solo, banyak lagi kuliner di Solo. Sebutlah antaranya Selat Solo, Kupat tahu, Gule Kambing, Soto Sapi, Pecel,Sate Buntel, Nasi Tumpang, Nase Kare, Wedang Ronde, Tengkleng, bebek Goreng,Jagung bakar, Jenang tumpang, Rawon Penjara, Mie bandung, Sop Buntut, Gudeg Kendil, Wadang Donga, Es Dawet dan sebagainya. Tapi pilihan jatuh kepada Nasi Liwet sambil duduk bersila menikmati makanan yang dibungkus dengan daun pisang.

Selepas makan, kami singgah sebentar di kediamannya di Loji Ndalem Sasana Mulya di Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Di sana, Gusti Dipo memberikan hadiah berupa buku kecil Ajaran Leluhur Keraton Surakarta Hadiningrat.
Keesokan harinya, selepas sarapan kami terus ke Universiti Slamet Riyadi Solo. Di sana, saya diminta untuk berbicara dalam Diskusi Peranan Media Massa dalam pengelolaan Isu-Isu Bilateral Indonesia dan Malaysia.Saya agak terkejut juga dengan tajuk besar itu.Mulanya saya hanya menjangka akan diminta bercakap mengenai pengalaman sebagai wartawan.

Dalam diskusi saya menegaskan bahawa peranan media massa amatlah penting untuk memperkukuhkan hubungan kedua pihak, media berperanan meluruskan salah faham. Media harus berpegang teguh kepada kode etika kewartawanan.Adalah amat penting bagi media untuk berpihak kepada fakta, menulis hanya fakta yang benar dan tidak menulis dengan hanya berdasarkan desas desus dan khabar angin. Di sana, saya juga bertemu dengan seorang mahasiswa yang sering membaca blog saya, Yahya Affandy. Saya agak terharu dan rasa tersanjung.

Dari Unisri, kami makan tengahari di Soto Gading sebelum melawat Muzium Keraton Surakarta Hadiningrat. Selepas melihat pameran di Keraton, kami ke Gramedia.Kemudian kami minum kopi sebelum melihat deretan warung penjual buku Sriwedari . Ini wisata buku, saya beritahu Mas Doang dan Mbak Rini yang menemani saya berkeliling Solo.

Sebelum ke Universitas Sebelas Maret untuk mengambil Pak Andhika yang menyampaikan makalah di sana, kami mengambil Dra Herning Suryo dan Ibu Damayanti kerana selepas itu kami ke tempat Ibu Christy, yang turut menjalankan perusahaan batik.

Ibu Christy membantu perusahaan suaminya dalam perniagaan batik dan menjual pelbagai corak batik pelbagai jenis. Selepas itu, sebelum pulang ke hotel, kami mencari warung yang popular di Solo. Saya memesan ikan lele penyet atau ikan keli penyet.

Sebenarnya banyak destinasi yang boleh dikunjungi di Kota Solo. Selain Keraton Kasunanan Surakarta, pengunjung juga boleh berkunjung ke Pura Mangkunegaran di Jalan Ranggawarsita, Gedung Kesenian Taman Balekambang, Gedung Wayang Orang Sriwedari untuk menyaksikan pertunjukan wayang orang Museum Radya Pustaka di Jalan Slamet Riyadi, Pendhapa Institut Seni Indonesia untuk menyaksikan latihan tarian dan gamelan setiap Jumaat malam, Pendhapa Taman Budaya Surakarta di Jalan Ir Sutami untuk menyaksikan wayang kulit.

Solo memang sebuah kota yang kaya dengan tradisi Jawa. Banyak tempat yang boleh dikunjungi. Banyak kebudayaan yang kita boleh saksikan, selain tentunya banyak juga jenis makanan dan kuliner yang boleh kita nikmati.

Saya teringat cerpen Joko Pinurbo yang terbit di Kompas sehari sebelum itu. Jokopin memetik Seno Gumira Ajidarma yang menulis " alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun yang tidak seberapa"

Satu-satunya kekesalan saya ialah tidak sempat melihat Bengawan Solo, sungai terpanjang di pulau Jawa. Sungai itu memberikan inspirasi kepada Gesang yang mencipta lagu keroncong, Bengawan Solo pada tahun 1940. Lagu itu menjadi popular , bukan saja di Indonesia malah di Jepun, Hong Kong, dan pernah dinyanyikan P.Ramlee dan Saloma.

"Bengawan Solo...Riwayatmu ini/Sedari dulu jadi ...Perhatian insani.
Musim kemarau …Tak sebrapa airmu...Di musim hujan air …Meluap sampai jauh.
Mata airmu dari Solo,Terkurung gunung seribu,Air meluap sampai jauh.Akhirnya ke laut,Itu perahu ….Riwayatmu dulu,Kaum pedagang selalu, Naik itu perahu".


Ya, itu riwayatmu dulu. Sekarang sudah jauh berbeza

No comments: