Wednesday, January 4, 2017

Jejak Melayu Timur di Reteh oleh Mosthamir Talib



Jejak Melayu Timur di Reteh
Tung Tong Kelintang
Kuala Patah Parang
Oleh: Mosthamir Thalib
Sesaat tiba, Nek Ude Majene, wanita berusia 78, langsung duduk di depan perangkat kelintang tua dan serta-merta menalu-nalu cembul besi itu satu per satu, tong-tung.. tong tung... “Yang satu ini sumbang,” katanya seraya mengarahkan mukanya pada satu cembul kulintang yang sudah berlubang. Padahal telinganya sudah tidak begitu mendengar lagi.
PERMAINAN kelintang tua tujuh nada peninggalan sebelum zaman Panglima Reteh Tengku Sulung (1858 M) ini dimainkan Nek Majene bersama wanita-wanita tua lainnya di Kuala Patah Parang, Indragiri Hilir (Inhil), di depan Tim Pencari Jejak Melayu Timur Iranun – di sini disebut Melayu Timur, yang datang dari Kota Belut, Sabah, Malaysia, yang zaman kerajaan Melayu dulu disebut Tempasuk. Alat-alat musik tradisional ini sendiri merupakan barang-barang lama yang dibawa dari negeri puak orang Mindanao (1787).
Tim yang terdiri dari Ketua Mahkamah Anak Negeri Sabah OKK (Orang Kaya-Kaya) Haji Masrin Haji Hassin, Abd Naddin Shaiddin dan Madin Sumalah setiba di Riau (12/11) dari Kuala Lumpur langsung dijamu Bupati Inhil HM Wardan yang berada di Pekanbaru. “Saya juga punya darah keturunan Melayu Timur. Dari sebelah nenek saya,” ujar putra Indragiri Selatan itu dalam pertemuan tersebut.
Bersama Kepala Dispora Budpar Inhil Junaidi dan didampingi dua seniman budayawan Riau Kazzaini Ks dan Mosthamir Thalib, langsung pula meneruskan perjalanan ke Tembilahan pada hari itu juga. Di Inhil pula, tim disambut oleh Ketua MKA LAM Inhil, Datuk Syamsuri Latif, di Wisma Pancang Jermal Parit 10 Tembilahan.
“Alhamdulillah.. Misi ini sangat memuaskan,” kata Haji Masrin Haji Hassin. Kepuasannya itu diungkapkannya sehalaman penuh pada Harian Borneo Pos yang terbit (20/11) di Sabah, Malaysia Timur, bertajuk Misi Mencari Iranun di Reteh Berhasil. Dia menyatakan rasa syukur yang dalam. “Banyak sekali maklumat dari temuan dan dari pertemuan demi pertemuan di Indragiri.”
Kampilan
Sebelum ke Kuala Patah Parang – sebuah desa di Kecamatan Enok yang penduduknya mayoritas Melayu Timur, tim ini juga sempat mengunjungi Pulau Kijang, Kecamatan Reteh. Bertemu dengan sejumlah tokoh Melayu Timur, antaranya Oteh Majemuk dari Sungai Undan, yang juga merupakan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Kecamatan Reteh, Inhil, di Pulau Kijang.
Tokoh-tokoh yang berkumpul di rumah Marjuni, seorang warga keturunan Melayu Timur, sekitar 20-an orang. Mereka membawa sejumlah bukti barang pusaka warisan Melayu Timur, termasuk peralatan adat yang selalu digunakan orang Melayu Timur. Barang-barang pusaka itu antaranya berupa senjata kampilan – senjata khas Melayu Timur, skin, dan sundang.
“Ini sah peralatan perang orang Iranun,” kata Naddin, seraya memegang sebilah kampilan.
Kampilan serupa pedang. Panjang kampilan yang diperlihatkan beragam, antara 60 cm sampai 80 cm. Bagian atas ujungnya sedikit bercabang seperti pial atau jeger kepala ayam. Ulunya berukir kepala naga dengan umbai-umbai rambut atau bulu binatang.
Selain senjata tajam, di Pulau Kijang ini, seorang keturunan Melayu Timur, Ahmad Mustafa dari Kotabaru, memperlihatkan bisluit (SK) Raja Kerajaan Riau-Lingga, pengangkatan Tengku Ismail, sebagai penguasa Reteh.
Selepas Pulau Kijang Kecamatan Reteh, yang bersempadan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, dengan speed boat, tim berbalik arah balik ke Tembilahan dan singgah di Kuala Patah Parang. Inilah tempat tujuan lebih khusus itu. Sebuah desa yang penduduknya mayoritas suku Melayu Timur. Selain di Kuala Patah Parang Luar – sebagai nelayan - ini, komunitas Melayu Timur juga berdomisili di Kuala Parat Parah Dalam, berkebun.
Setelah salat Asyar di masjid di hilir Kuala Patah Parang yang banyak Suku Laut (Duanu) berdomisili, tim beranjak ke hulu. Menambatkan speed boat di sebuah ujung pelantar jerambah kayu. Di beberapa tempat di hamparan jerambah itu tampak beberapa hasil tangkapan dari laut dijemur untuk dikeringkan. Udang dan ikan. Selain itu tampak juga belacan, yang memerah dijemur di panas “hari”, hasil olahan penduduk setempat.
Di sini tim diterima imam surau Muhammad Ali Sapar – yang biasa dipanggil orang kampung dengan Cik Li. Masih muda. Tim diterima masuk di sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah panggung bertongkat kayu seadanya di atas dataran lumpur yang agak tinggi dari pantai lumpur. Berdinding papan-papan lama. Nyaris tidak ada daun tingkap. Sehingga angin laut pesisir pantai timur Sumatera bebas bertiup keluar-masuk.
Di rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter itu tim duduk bersila di lantai bersama tuan rumah dan orang yang paling dituakan, Nurdin bin Syahjohan atau Long No (75) – sapaan orang-orang kampung padanya. Ketokohannya malah sampai di sekitar kawasan Indragiri Hilir bagian Selatan lainnya. Dalam sekejab saja, sudah ramai orang-orang berhimpun di dalam rumah Cik Li.
Long No segera menyuruh beberapa orang mengambil alat-alat musik kelintang peninggalan pengikut Raja Ismail yang dibawa dari Tempasuk pada tahun 1787. Satu perangkat kelintang tujuh nada dengan tiga gendang. Nek Majene yang lebih dulu datang langsung mengambil posisi di depan kelintang tua. Meminta kayu penalu pada tuan rumah, dan langsung memukul-mukul cembul-cembul kulintang itu.
Tidak lama berselang muncul pula beberapa wanita tua lainnya, pemain grup kelintang ini. Siti Aminah binti Hamid, berusia 70-an - memainkan gendang, Semah binti Ketik - usia 90-an, juga memainkan gendang lainnya, dibantu Cik Li atau Muhammadi Ali Sapar yang menalu gong. Madin Sumalah pun ikut bermain, memainkan gendang yang paling besar.
Ada beberapa lagu khas musik tradisional kelintang yang dibawa dari negeri leluhurnya ini. Antaranya Serama, Andok-andok, Kudidi – yang terakhir di Indragiri menjadi Kedidi – nama burung. Menurut Sulaiman Merawi, seorang pemuda sana, ada sekitar belasan rentak kelintang yang ada di Patah Parang dan sekitarnya antaranya Anduk-anduk, Anduk-anduk Selor, Kedidi, Kedincing, Serame, Serame 2, Serame 3, Serame Jawa, Serama Angin, Cak Pumpung, Gubang Gubang, Gubang Gubang Kayoh, Kisak-kisak, Janda Ngagek Terong, Kedungkok, Tepai Begelot. Sendayung “Semua jenis rentak tersebut orang tetua yang pandai memainkannya,” kata Sulaiman.
Tidak ada regenerasi. Itulah yang terungkap dari penelusuran jejak Iranun ini, khususnya pada permainan kelintang. “Ini yang membuat kita sedih. Generasi muda tak ramai lagi yang tahu. Sementara Nek Uda Jena sudah 78 tahun. Kelintang itu pula, itulah satu-satunya. Sesuatu perlu dibuat untuk menyelematkan kesenian ini yang hampir pupus sebelum ia tenggelam dan dihanyutkan oleh sungai sejarah,” ujar Naddin
Itu pulalah sebab Sulaiman yang kini merantau ke Karimun berharap, kunjungan dari Sabah Malaysia ini bisa membangkitkan dan membakar semangat kaum muda untuk mempelajarinya. “Apalagi bila dapat sokongan pemerintah,” tambahnya. Kunjungan ke Pulau Kijang dan Kuala Patah Parang ini memang disertai pendamping dari Dinas Pariwisata Inhil, Raja Indra Maulana dan Haji Ahmady.
Pembakar Semangat
Menurut catatan di Tuhfat Al Nafis, dulu Raja Ismail datang ke kawasan Riau-Johor dengan sekitar 40 perahu penjajab. Dengan jumlah pasukan seluruhnya sekitar 1000 orang. Setiap penjajab dilengkapi seperangkat alat kelintang. Selalu dimainkan ketika angin tenang dan para prajurit mengayuh-ngayuh kapal penjajabnya. “Jadi fungsinya seperti alat pembakar semangat para prajurit,” kata Naddin.
Ketika berlayar menuju ke Kerajaan Riau-Lingga, menurut Naddin, kelintang yang dibawa sekitar 30 sampai 40 buah, sama dengan jumlah penjajabnya. Sekarang yang baru ditemukan sekitar lima buah. Dua di Patah Parang Dalam dan Patah Parang Luar. Dua di Reteh. Satu buah yang berasal dari Reteh dibawa ke Tanjung Uban, Kepulauan Riau. “Jadi masih ada sekitar 15 sampai 20 buah belum diketahui di mana keberadaannya.”
Selain kelintang, di Kuala Patah parang juga ditemui peralatan senjata tajam, seperti kampilan. Yang lainnya adalah pemanai, yaitu sejenis selayar atau umbul-umbul warna merah putih yang biasa digunakan untuk perhelatan pesta pernikahan. Beberapa kosakata Melayu Iranun pun masih dipakai, baik di Pulau Kijang maupun di Kuala Patah Parang. Seperti kata tunung (menyelap), betapok (berdiam), degan (banjir), dan sejumlah kata lainnya.
Di Inhil dan sekitarnya, komunitas orang-orang yang datang dari Tempasuk ini disebut Melayu Timur. Mereka tidak disebut “suku lanun” karena kesannya negatif. Suka merompak di laut. Nama Melayu Timur terkesan lebih memberikan kharisma. Ketika diminta tanggapan oleh Naddin, apa yang dimaksud “timur” di ujung kata Melayu itu, di antara mereka ada yang beranggapan mereka datang dari Pulau Penyengat – pusat kerajaan Melayu Riau-Johor-Pahang. “Karena Pulau Penyengat berada di Timur,” kata Ahmad Mustafa, keturunan Melayu Timur yang berdomisili di Kotabaru Keritang.
Abd Naddin menjelaskan, orang-orang Melayu Timur di Reteh dan Kuala Patah Parang memang suku yang sama dengan mereka, Yaitu, suku Iranun. “Bukan Lanun. Lanun itu penjajah yang memberi nama dan memberikan nilai negatif pada nama itu. Irranum itu maknanya kasih-sayang.”
Para Iranun yang ada di Indragiri sampai ke kawasan Jambi adalah pasukan perang yang datang bersama Raja Ismail dari Kerajaan Tempasuk, Sabah, tahun 1787. Mereka datang ke kawasan ini atas permintaan Sultan Johor, Sultan Mahmud Riayat Syah atau Sultan Mahmudsyah III, untuk menyerang Belanda di Tanjungpinang, yang mendudukkan residennya di sana. Dalam peperangan ini Raja Ismail bersama Sultan Mahmud Riayat Syah berhasil mengalahkan Belanda dan menghalau Rasiden Belanda, David Ruhde, dari Tanjungpinang pada 13 Mei 1787, dengan pakaian sehelai sepinggang.
Setelah perang, sebagian pengikut Raja Ismail ini pulang ke Tempasuk dan sebagian lainnya tetap tinggal di kawasan Kerajaan Riau-Lingga. Membuka negeri baru di Sungai Reteh. Negeri pertama yang dibuka Kotabaru Reteh. Kemudian Pulau Kijang, Benteng, dan Kuala Patah Parang. Menurut sumber di Pulau Kijang ini, Tengku Ismail yang membuka Kotabaru mempunyai keturunan Tuk Muda Tahir, Tuk Yakup, dan Tuk Naini. Nama yang terakhir ini, Tuk Naini, yang membuka negeri Pulau Kijang. Sedangkan Negeri Benteng dibuka oleh Tengku Sulung semasa perang melawan Belanda.
Nama besar lain selain Raja Ismail dan Tengku Sulung dari kalangan Melayu Timur ini adalah Syahbuddin. Buyutnya Long No atau Nurdin. Malah orang tua yang terlihat masih segar walau usia sudah 75 tahunan ini dapat meruntut silsilahnya dari bawah sampai ke atas, mulai darinya sendiri, Nurdin bin Syahjohan, Syahjohan bin Alamsyah, Alamsyah bin Syahlawan, dan Syahlawan bin Syahbuddin. Orang yang bernama Syahbuddin ini kemudian balik ke negeri Tempasuk. “Dia cakap balik kampung. Kami tidak tahu dulu di mana kampung yang dia maksud. Yang jelas di Timur,” kata Long No.
Konsisten Menantang Penjajah
Ketika Tengku Sulung menantang Belanda, setelah Belanda memakzulkan Sultan Riau-Lingga Sultan Abdurrahman Muazam Syah II, orang-orang Melayu Timur inilah dengan kampilan-kampilan mereka berperang melawan Belanda. Mereka sangat mahir bergerilya di padang lumpur dan menyelinap masuk suak-rawang dan meniti melompat-lompat di akar-akar tunjang hutan bakau (mangrove).
Kemahiran serupa dimiliki juga Letnan Boyak, seorang pejuang kemerdekaan keturunan Melayu Timur di Indragiri. Saudara kandung seniman terkenal Idrus Tintin ini dulu juga sangat ditakuti Belanda. Namanya bergaung di mana-mana dan dia bersama pasukannya bisa muncul di mana saja ketika mengejar musuh melintasi hutan rimba Indragiri. Nasibnya kemudian sama dengan Tengku Sulung. Peluru Belanda menembusi tubuhnya. Juga di kawasan pesisir pantai Indragiri Selatan. Di padang lumpur. Hanya tipu-muslihat penjajah dan pengkhianatan sesama anak bangsa - yang gampang termakan umpan - yang mempan menggugurkan mereka.
UU Hamidy, budayawan Riau yang banyak meneliti sejarah dan budaya Melayu - menjuluki, Iranun ini Mujahiddin Nusantara Sejati. Mereka konsisten dan tanpa kompromi melakukan perlawanan terhadap penjajah di bumi nusantara mana saja. Mulai dari Filipina, Malaya, sampai Indonesia. Di Filipina mereka berperang dengan Spanyol. Di Malaysia mereka berperang dengan Inggris, dan di Indonesia mereka berperang melawan Belanda.
Sekarang Melayu yang berasal dari Reteh ini sudah menyebar ke banyak daerah lainnya di pesisir pantai timur. Antaranya Tanjung Jabung, Sabak, Kuala Tungkal dan daerah Jambi lainnya. Sama dengan Bupati Inhil HM Wardan yang punya darah keturunan Melayu Timur, bupati pertama kabupaten pemekaran Tanjung Jabung Timur juga keturunan Melayu Timur. Begitu pula beberapa orang pemimpin daerah itu lainnya.
Air laut semakin surut. Tidak terasa bincang-bincang Tim Pencari Jejak Irnun dengan keturunan Melayu Timur di Kuala Patah Parang sudah memakan waktu. Tekong speed boat tampak mulai kusut. “Air laut sudah jauh surut,” katanya, “Nanti boat kita tersadai di beting laut.”
Tim bersama rombongan lalu bergegas. Meninggalkan percakapan yang belum puas. Ketika pergi pagi harinya ke Pulau Kijang air baru pasang. Ketika pulang air surut sudah meninggalkan tongkat-tongkat sebagian rumah orang-orang di Kuala Patah Parang. Ketika meninggalkan Kuala Patah Parang dan menuju ke Kuala Enok, speed boat pun tidak bisa lagi menyusuri tepian bakau sebagaimana datang waktu pagi harinya. Beting-beting lumpur sudah muncul. Jauh melandai ke tengah laut. Warnanya putih keabu-abuan. Sewarna dengan air lautnya. Hanya bangau-bangau putih yang tengah berjalan-jalan - sedang mencari makan, menangkup anak-anak ikan, yang menandai itu beting.
Speed boat terpaksa mengambil alur jauh ke tengah, Semakin surut air, semakin jauh meninggalkan tepi. Bila salah mengikuti alur di air tepian laut yang keruh ini bisa membuat perahu apa saja tersadai di pantai. Apabila tersadai, maka ber-tapok-lah.. di sana, di tengah-tengah, di antara lautan dan daratan selama menunggu air pasang kembali.
Dari Kuala Patah Parang memang tampak laut lepas. Namun tidak setiap waktu orang-orang di sini boleh bebas. Melaut ke laut lepas. Apatah lagi bila surut timpas.***
Pernah terbit di Riau Pos 27 Dis 2016

No comments: