Thursday, February 23, 2017

BERKUNJUNG KE KOTA KUDUS



 BERKUNJUNG KE KOTA KUDUS
SAYA lupa berkisah mengenai Sunan Kudus. Padahal itulah tempat pertama yang saya kunjungi sebaik tiba di Kota Kudus, sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Perjalanan sejauh kira-kira 77.9 kilometer dari Rembang memang agak meletihkan tetapi waktu dua jam dalam kenderaan tidak terasa mungkin kerana itulah pertama kali sampai ke Kudus.
Kudus ertinya suci, bersih, murni. Bagi saya perjalanan kali ini amat bermakna. Ia seperti perjalanan untuk membersihkan hati.Mungkin boleh juga saya katakan kunjungan ke beberapa kota penting di Jawa Tengah ini adalah untuk melihat jejak sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Saya ingin menelurusuri jejak-jejak ulama walisongo yang berjaya menyebarkan dakwah Islam melalui kearifan tempatan dan mereka diterima dengan mudah oleh masyarakat. Alangkah baiknya jika saya dapat dipinjamkan sedikit kebijaksanaan dan kemuliaan yang mereka miliki.
Sunan Kudus adalah salah seorang dari ulama Walisongo yang terkenal sebagai pengembang Islam di Pulau Jawa. Kini daerah tempatnya berdakwah itu dikenali dengan nama Kudus, sebuah kota yang terletak bersempadan dengan Grobogan, Pati,Jepara dan Demak.Kudus kini terkenal sebagai sebuah kota yang maju, makmur dan terletak di tempat yang strategi sebagai lalu lintas perdagangan di Jawa di jalur Pantura atau AH2.
Di kota ini, terdapat Makam Sunan Kudus, yang terletak dalam kompleks Masjid Menara Kudus.Masjid itu sendiri selain dikenali sebagai Masjid Menara Kudus, ia juga dikenali dengan nama Masjid Al-Aqhsa dan Masjid Manar.
Saya memasuki kawasan makam Sunan Kudus yang dipenuhi pengunjung, entah dari mana. Mungkin dari seluruh pelusuk pulau Jawa kerana makam itu  dianggap keramat oleh umat Islam di Indonesia. Di kawasan makam itu, terdapat juga makam-makam murid-murid beliau dan kaum keluarganya.

Sunan Kudus atau Raden Ja’far Shodiq  sangat bijaksana dalam menjalankan misi dakwahnya.  Beliau mampu menyebarkan dakwah Islam dengan melakukan pribumisasi dan adaptasi ajaran Islam di tengah masyarakat Jawa yang menganut agama Hindu dan Buddha pada masa itu. Sunan Kudus terkenal sebagai seorang wali yang sakti namun  tidak suka kepada orang-orang yang tidak jujur. Banyak kisah mitos yang kita boleh dengar dari masyarakat setempat mengenai Sunan Kudus.

Kita dapat melihat peninggalan Sunan Kudus iaitu Masjid Menara Kudus. Mengikut catatan sejarah masjid Menara Kudus itu didirikan pada tahun 956 H datau 1549 M. Tapi jangan silap.Di sana juga terletak Menara Kudus yang dibina jauh lebih tua dari masjid menara Kudus.


Kini makam Sunan Kudus itu tidak pernah sepi pengunjung. Dalam satu hari, jumlah pengunjung mencapai ribuan orang. Jumlah ini bertambah pada musim cuti sekolah. Dalam kunjungan kali inipun, ruang di kawasan makam itu dipenuhi oleh penziarah dari pelbagai kota di Indonesia.

Saya memasuki makam itu. Duduk mengaminkan doa di belakang orang-orang yang lebih dulu sampai. Selesai berdoa, pengunjung beredar meninggalkan makam bagi memberi tempat kepada pengunjung lain yang baru tiba.  Saya merasa sangat bersyukur kerana mendapat kesempatan untuk berziarah ke makam walisongo yang sangat terkenal dalam sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Sebelum meninggalkan kawasan itu, saya sempat melihat-lihat peniaga-peniaga yang menjual pelbagai jenis jualan seperti makanan, pakaian, kraftangan dan sebagainya. Kalau diikutkan hati, memang banyak yang mahu dibeli, tapi akhirnya saya memutuskan membeli sejadah untuk isteri tercinta dan anak-anak sebagai tanda bahawa saya pernah berkunjung ke kota Kudus.




No comments: