Saturday, May 26, 2018

SEKADAR BERCERITA MENGENAI TIKUS

SEKADAR BERCERITA MENGENAI TIKUS

Apa yang harus kita buat untuk memecahkan persoalan tikus? Ini bukan pertanyaan saya sebaliknya pertanyaan Syed Hussein Alatas dalam sebuah simposium antarabangsa di Tokyo pada 1982. Saya hanya menulis ulang semula kerana tiba-tiba saya teringat persoalan mengenai tikus.
Apa yang harus kita buat? Mula-mula kita ada kesedaran mengenai Tikus. Ini bererti, masyarakat kita harus punya pemimpin-pemimpin yang mahu membenteras tikus hingga punah sama sekali.
SH Alatas kemudian memberikan sebuah contoh. Hasil pemerhatiannya sendiri. Jikalau tanaman diserang sedimikian rupa oleh tikus-tikus selama berpuluh tahun sebagai kejadian yang sentiasa terjadi, maka ia bererti bahawa kita memberikan kesempatan kepada tikus-tikus, kepada makhluk yang tamak, kepada perompak, perosak yang rakus, pekerja yang tak produktif yang didorong nafsu seksdan makanan, kebaikan dan giat dalam kegiatan kelobaan, untuk menghentikannya hanya dengan kekerasan.
Apa yang perlu dibangkitkan, kata SH Alatas adalah cita-cita kebajikan dan perasaan malu.Perasaan malu secara kolektif yang telah dibinasakan oleh tikus-tikus harus dihidupkan kembali dalam setiap usaha membangun dan memajukan masyarakat dan bangsa.
Kenapa Tikus?  Dalam lontara Bugis ada dinyatakan mengenai perihal tikus ini. Saya kutip dalam buku  Nilai Utama Kebudayaan Bugis oleh A Rahman Rahim. Tikus adalah binatang yang paling banyak menimbulkan kerosakan, lagi sangat menjengkelkan dan menjijikkan kelakukannya. Kerosakan yang ditimbulkannnya tidak hanya terbatas di sawah tetapi sampai padi itu disimpan di rumah, sampai selesai ditumbuk jadi beras dan sudah pula dimasak, tikus itu terus merosaknya. Nasi yang sudah dimakannya , dikencinginya pula..
Bukan itu saja, dinding dilubangi, lantas dari lubang itu binatang-binatang kecil yang lain mengambil kesempatan melakukan kerosakan dengan melalui kebocoran atau lubang itu.
Peti juga dapat dilubangi oleh Tikus. Kalau ia sudah masuk ke dalamnya, pakaian dan barang berharga lainnya akan dimakan dan dirosakkannya.Kebiasannya tidak boleh ditinggalkan maka sebelum keluar iapun berak dan kencing. Begitulah kerosakan yang ditimbulkan oleh Tikus.
Tikus adalah binatang yang tidak dikurnia perasaan malu dan akal fikiran. Saya terbaca catatan mengenai Lontara Bugis yang mengaitkan persoalan tikus ini dengan persoalan manusia yang tidak memliki kejujuran, kebijaksanaan, kepatutan, keteguhan dan usaha.
Persoalan mengenai tikus teryata tidak dapat saya rungkaikan. Saya tidak dapat menjawab pertanyaan SH Alatas mengenai apa yang kita harus buat untuk memecahkan persoalan tikus. Apa yang saya fikir ialah kita harus punya pemimpin-pemimpin yang mahu membenteras tikus hingga punah sama sekali.

1 comment:

aprilia said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Apakah Anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website kami http://kbagi.com/ untuk info selengkapnya.
Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)