Wednesday, September 12, 2018

SEBARIS PERTANYAAN SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO

SEBARIS PERTANYAAN SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO

SATU pertanyaan masih tersisa sebelum kami meninggalkan Bandara Internasional Sam Ratulangi, Kota Manado setelah tiga hari berada di Sulawesi Utara.  Pertanyaan singkat itu membuat saya berfikir.Bolehkah sudah kita disebut manusia? Manusia yang sudah memanusiakan manusia? Pertanyaan itu timbul dari pernyataan Dr Sam Ratulangi sendiri yang berbunyi “Si tou timou tumou tou” yang bermaksud “manusia baru disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia”.




Sambil menikmati perjalanan mengelilingi keindahan wilayah paling utara di pulau Sulawesi, kata-kata Dr Sam Ratulangi ini terus terpahat dalam fikiran. Dr Sam Ratulangi adalah Pahlawan Nasional Indonesia, yang lahir di Tondano. Beliau dikenali sebagai ahli politik, wartawan dan guru. Sam Ratulangi memperolehi ijazah sarjana dalam bidang pengajaran dan sains di Universiti Amsterdam,Belanda. Selepas itu beliau melanjutkan pengajan yang mendapat gelar PhD di Universiti Zurich Swiss pada tahun 1919.


Bagi Sam Ratulangi (1890-1949) , Gabenor Sulawesi Utara  yang pertama  ini, falsafah Si tou timou tomuo tou ini sangat penting.  Kini walaupun sudah meninggal 69 tahun lalu, kata-kata Sam Ratulangi ini masih menggema sampai kini.

Itu sebabnya, ketika Pak Mario, pemandu pelancong kami  menjelaskan maksud kata-kata itu, saya teringat perjuangan Sam Ratulangi membebaskan rakyatnya dari kemunduran melalui pendidikan  dan kegigihannya menentang kolonialisme di Indonesia.

Di Kota Manado, yang tahun ini menyambut ulangtahun ke 395, pelbagai kemajuan dan pembangunan berjaya dicapai. Atas kejayaannya memimpin Kota Manado,WaliKota  Ir GS Vicky Lumentut, terpilih sebagai walikota terbaik di seluruh Indonesia.




Banyak perkara menarik di kota yang dinobatkan sebagai kota paling toleransi di Indonesia ini. Ketika Rombongan 15 orang terdiri dari Agensi dan Operator Pelancongan dari Sabah  membuat program kunjungan  Fam Trip di Kota Manado, mereka bukan saja berpeluang melihat pelbagai destinasi pelancongan yang menarik malah keramahan dan layanan istimewa dari masyarakatnya.




Dari Kota Manado, rombongan Fam Trip itu  seterusnya ke Kawangkoan,Tutuyan,Kota Kotamobago, Lolak, dari Boltim hingga Bolmong dan berbalik lagi mengikuti laluan Jalan Trans Sulawesi, Sulawesi Utara bukan saja boleh disimpulkan sebagai Bumi Nyiur Melambai tetapi juga yang selalu melambai lambai kita untuk datang kembali.



 Sebenarnya, Manado dan Sulawesi Utara menjadi pilihan hasil saranan daripada Duta Besar RI ke Malaysia, Rusdi Kirana ketika mengadakan pertemuan dengan KJRI Kota Kinabalu dimana beliau  mendorong agar pelancong-pelancong berkunjung dan meneroka keindahan Wilayah Indonesia Timur yang tidak kurang kecantikan, keindahan dan memiliki pelbagai keistimewaan, kata Konsul Ekonomi KJRI Kota Kinabalu, Ibu Hendro Retno Wulan.




Melalui kunjungan Fam Trip itu, beliau berharap jumlah kedatangan pelancong ke Kota Manado seterusnya ke destinasi pelancongan dan tempat tempat menarik di seluruh Sulawesi Utara akan bertambah berlipat ganda.

Sepanjang kunjungan itu, rombongan dari Sabah itu berpeluang bertemu Bupati Boltim, Bapak Sehan Landjar SH,  Kepala Dinas Pariwisata Boltim, Pak Rizky Lamaluta. Asisten II Bidang Pembangunan dan Kesra Bolmong, Yudha Rantung dan  Kadis Pariwisata dan Budaya (Parbud) Bolmong Dra Ulfa Paputungan. Di Kota Manado, Rombongan juga  sempat bertemu dengan  Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulawesi Utara, Daniel Mawengkang.

Layanan yang diberikan Asita (Association of The IndonesianTours & Travel Agencies) yang diketuai oleh Ibu Merry Karouwan, Ketua Asita Sulut dan ahli jawatankuasanya  amat luar biasa. Malah ketika kami pulang dari destinasi terakhir, Pulau Bunaken, Kota Manado yang dipagari pergunungan itu kelihatan sangat cantik.


Jambatan Soekarno dan Monumen Lilin setinggi 50 meter itu terlihat agak menonjol di ibu kota  Sulawesi Utara yang juga dikenali sebagai “Land Of Smiling People itu”, Masyarakatnya yang terdiri dari berbilang etnik itu-antaranya Minahasa, Bolaang Mongondow dan Sangihe Talaud -hidup harmoni tanpa sebarang masalah.

Torang Samua Basudara, kata orang Manado yang selalu membuat kita aman, yang kehadirannya selalu dialu-alukan. Ungkapan ini juga memperkukuhkan semangat toleransi dan kerukunan hidup masyarakat di Kota Manado

“Mari kita pelihara kebersamaan serta sikap hidup yang saling menghormati dan menjaga toleransi di antara berbagai perbedaan yang ada di tengah kita,” kata Walikota GS Vicky Lumentut, seperti yang dikutip Tribun Manado 14 Julai.

Sebelum berangkat meninggalkan Kota Manado, masih ada waktu yang tersisa di Bandara Sam Ratulangi. Kami sempat pula menghabiskan wang rupiah yang masih ada, untuk membeli cenderamata.


Saya sempat menikmati nasi kuning khas Manado yang selalu dipuji itu. Tapi jangan tanya mana makanan yang sedap, atau mana tempat yang tercantik dan indah untuk dikunjungi  kerana jawapan yang pasti adalah “samua bae bae saja”

“Marijo ka Manado”.Ketika membaca “Manado Punya Cirita”, Kami sudah lama meninggalkan Lapangan Terbang Sam Ratulangi, dan tiga jam kemudian transit di Bandara Internasional Seokarno Hatta sebelum terbang dengan Batik Air ke Kota Kinabalu.

Thursday, September 6, 2018

SINGGAH DI PULAU BUNAKEN, SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO

SINGGAH DI PULAU BUNAKEN, SEBELUM MENINGGALKAN KOTA MANADO


SEBELUM pulang meninggalkan Kota Manado, kami tidak mahu melepaskan peluang ke Pulau Bunaken,yang terletak kira-kira 45 minit perjalanan dengan bot dari Tasik Ria Resort,di Desa Mokupa,  tempat kami menginap pada malam terakhir di Sulawesi Utara.


Jadi, sejak awal pagi lagi kami sudah berkemas. Check out. Mendaftar keluar dari hotel. Meletakkan bagasi di kaunter untuk diuruskan concierge. Kemudian sarapan di restoran yang terletak di tepian Teluk Manado.

Sarapan dalam dakapan pagi yang cerah itu, biarpun menyelerakan, tidak dapat mengusir keinginan kami untuk segera ke Bunaken, pulau yang menyimpan keajaiban alam yang sungguh mempesona.


Penolong Pengurus Tasik Ria Resort, Hartini Mochtar menyapa kami dengan ramah. Hartini, orang Jawa Tondano. Dia masih keturunan Kyai Modjo, salah seorang ulama dari Pulau Jawa yang diasingkan oleh Belanda  ke Sulawesi Utara bersama 63 pengikutnya pada tahun 1829.

Sebelum melompat ke dalam bot yang disediakan, saya terdengar seseorang menyebut nama saya, Nadin. Saya biasa dipanggil Nadin walaupun sebenarnya nama penuh saya Abd.Naddin. Saya menoleh dan cuba mengamati apa yang diceritakan. Rupanya bukan saya yang dimaksudkan tapi seorang lain bernama Nadine Gorny, seorang perempuan penyelam scuba  yang masih bercuti ketika itu.





Tidak lama selepas itu, kira-kira jam 8.00 kami berangkat ke Bunaken. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan masa bercerita sambil menyaksikan keindahan pemandangan, laut yang terbuka luas, misteri hidupan di dasarnya, dan pulau Manado Tua yang penuh sejarah.

Ada juga yang sempat menikmati kopi, ada yang makan mangga. Saya sendiri, bersama Pak Sarip menikmati kacang yang dibeli dari kawangkoan. Banyak cerita menarik mengenai Bunaken, yang diceritakan sendiri oleh pak Joe Watung, pemilik Bastianos Dive Resort.

Bunaken adalah antara syurga penyelaman terbaik di dunia. Memiliki banyak batu karang yang cantik, dan hidupan  laut yang jarang ditemui di tempat lain. Ia sentiasa menjadi pilihan pelancong khususnya penyelam dari seluruh dunia yang berkunjung ke Manado. Bunaken sentiasa berada dalam jadual perjalanan mereka.




Setiap bulan, resort kami dikunjungi kira-kira 100 orang, katanya. Kebanyakannya dari Eropah. Jumlah ini terus bertambah, katanya sambil mnambah. Pihaknya akan memperkenalkan banyak pakej pelancongan yang tentunya menarik minat pelancong.

Bastianos terletak di Pantai Liang, di bahagian barat pulau Bunaken. Sebaik tiba di pulau seluas 8.08 kilometer persegi di Teluk Manado, kami diberikan taklimat oleh Michael Pilkvist, pengurus Resort. 

Katanya, di sekitar Pulau Bunaken itu terdapat Taman Laut Bunaken yang memiliki biodiversiti laut yang terkaya di dunia. Itu sebabnya penyelam skuba sentiasa menjadikan Taman Laut Bunaken pilihan mereka. Di Taman Laut Bunaken seluas 75,265 hektar meliputi lima pulau iaitu pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage dan beberapa anak pulaunya dan pulau Naen.


Terdapat sebanyak 20 titik penyelaman (dive spot) di Taman Laut Bunaken. Sebanyak 12 titik selam yang lain banyak dikunjungi penyelam terdapat di Pulau Bunaken. Keindahan pemandangan bawah lautnya, menurut orang orang yang pernah menyelaminya, sukar dibayangkan. Terdapat dinding-dinding karang raksasa yang berdiri secara vertikal dan banyak lagi khazanah laut yang luar biasa keajaibannya dan hanya dapat dinikmati penyelam.

Biasanya pelancong yang datang ke Bunaken, selain menyelam (diving) mereka juga berkeliling (sightseeing) menikmati keindahan taman laut dengan bot katamaran. Sorkeling (berenang memakai alat pernafasan)Ada juga yang rekreasi air, berperahu layar (boat sailing), jet ski atau foto bawah laut (photography Underwater) , bermandi matahari (Sunbathing) dan sebagainya.

Kami rombongan Fam Trip yang terdiri dari agen dan operator pelancongan dari Sabah diketuai Konsul Ekonomi, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Ibu Hendro Retno Wulan, harus pulang hari itu juga ke Sabah.  Itulah sebabnya mengapa kami tidak boleh berlama-lama di Bunaken. Kami hanya sempat menghirup udara dan menikmati keindahan pantainya kira-kira sejam sebelum naik semula ke bot untuk Kota Manado seterusnya ke Bandar Udara Dr Sam Ratulangi, menunggu pesawat Batik Air yang akan membawa kami ke Jakarta.